Opini  

Lentera Di Tengah Badai

Karya Cerpen: Aster Bili Bora

Karya Cerpen: Aster Bili Bora 

RUMAH di ujung gang itu selalu diselimuti atmosfer yang ganjil. Dari luar dindingnya yang kusam dengan cat yang mengelupas seolah menyimpan ribuan rahasia kelam. Di dalamnya, suasana terasa begitu dingin dan pengap, seakan udara sendiri enggan berputar. Cahaya lampu bohlam kuning yang temaram di ruang tengah hanya mampu menerangi sudut-sudut ruangan yang sepi.
Di rumah itulah Mariana melewatkan hari-harinya. Malam ini ia kembali berdiri menatap pantulan dirinya di cermin retak kamar mandi. Sudut bibirnya membiru, dan ada bekas kemerahan yang perlahan menggelap di pipi kirinya. Rasa perih itu nyata, menyerang fisiknya setiap hari sejak awal pernikahan. Namun, alih-alih menangis atau mengutuk Mike, suaminya, bibir Mariana yang terluka itu perlahan menarik sebuah senyuman. Senyum yang tulus, tanpa dendam.
“Kau bodoh, Mariana! Apa lagi yang kau cari dari laki-laki seperti Mike?”
Suara sahabat-sahabat perempuannya mendadak terngiang di kepala, membawa memorinya melompat ke masa beberapa tahun lalu. Saat itu mereka berkumpul di teras rumah, menatap Mariana dengan tatapan iba sekaligus geram setelah melihat lebam membiru di lengannya.
“Cerai, Mariana! Pernikahan ini sudah beracun sejak hari pertama!”
Saat itu Mariana hanya menggenggam jemari temannya dan menjawab dengan ketenangan yang menghujam, “Saya hidup dengan Mike, dan saya siap mati dengan Mike. Itulah takdir hidupku, belahan jiwaku. Dalam suka dan duka, aku tetap satu dengan dia.”
Bagi Mariana, berani kawin dengan Mike bukan karena dorongan biologis semata, tetapi yang lebih utama rasa memiliki dengan dasar cinta yang tulus penuh kesetiaan.
Di tempat lain, dari rumah sunyi itu, Mariana tidak pernah tahu bahwa jalan hidupnya kerap menjadi perdebatan hangat. Di sebuah warung sayur yang ramai pada suatu pagi, namanya menjadi sumber pertengkaran ibu-ibu dalam kesempatan yang tidak ia hadiri.
“Sudah kena pukul tiap hari, masih saja bertahan. Mariana itu perempuan paling bodoh,” cemooh Rita sambil mengibaskan ujung daster batiknya dengan gemas. “Kalau saya di posisi dia, sudah lama saya polisikan. Memangnya Mike itu siapa? Laki-laki pemabuk, tidak punya tahi!”
Marta yang sedang memilih kangkung langsung menoleh, wajahnya memerah tidak terima.
“Jaga mulut e, jangan asal omong! Kamu tidak tahu soal isi hati Mariana. Bertahan dalam kekerasan seperti itu justru menunjukkan kekuatan batin yang luar biasa. Mariana itu wanita suci!”
“Suci bagaimana? Itu namanya siksa diri!” potong Desi ikut menimpali dengan nada sengit, melipat kedua tangannya di dada. “Jangan memuji kebodohan sebagai bentuk kesetiaan. Kalau suatu hari dia mati dihajar Mike, apa yang mau dipuji?”
“Kalian ini terlalu, hanya bisa menghakimi tanpa melihat kenyataan!” Bela Marta dengan suara meninggi, membuat perhatian seisi warung sayur terpusat padanya. “Coba lihat Mariana! Kurang apa dia? Sudah orangnya cantik rupawan, wajahnya teduh, dia juga perempuan yang luar biasa rajin. Belum lagi jiwanya yang selalu rendah hati, rajin minta ampun, tidak pernah menaruh dendam pada siapa pun.”
Marta mengambil napas sejenak, lalu menunjuk ke arah rumah Mariana.
“Bayangkan, setiap hari, sebelum matahari terbit, fajar bahkan belum pecah, Mariana sudah bangun. Dia siapkan sarapan keluarga, menyapu seluruh isi rumah sampai mengkilap, lalu membersihkan kintal halaman rumah yang luas itu sendirian. Tidak sampai di situ, setiap malam dia bikin adonan kue supaya pagi harinya bisa dipajang di meja jualan depan rumah. Dari jualan kue itulah asap dapur mereka bisa mengepul!”
“Nah, itu dia masalahnya, Marta!” sergah Rita, semakin bersemangat menyudutkan. “Mariana itu terlalu sempurna untuk laki-laki tidak tahu diri seperti Mike! Coba kalian lihat suaminya itu. Apa kerjaannya? Tidak ada! Tukang jalan-jalan tanpa arah, tidak punya pekerjaan yang jelas, dan malasnya, aduh hanya Tuhan yang tahu! Dia itu pemabuk kelas berat, tiap malam pulang sempoyongan mau moke.”
“Betul itu!” timpal Desi sambil mengangguk-angguk setuju. “Sudah miskin, tidak tahu diri, mulutnya tidak pernah berhenti mengisap rokok. Gayanya kalau keluar rumah selalu setel hebat, bicaranya tinggi seolah-olah orang paling sukses di kampung ini, padahal dompetnya kosong! Semua uang hasil Mariana jualan kue habis untuk moke dan rokok. Lalu kalau pulang, Mariana yang sudah capai cari uang dipukul sampai kecap keluar. Laki-laki biadab!”
“Kalian hanya melihat dari luar!” balas Marta pantang mundur, menunjuk Rita dan Desi dengan seikat kangkung. “Mariana itu memegang teguh janji nikahnya. Dia tahu suaminya hancur, dan dia memilih menjadi penyembuh. Dia bukan tipe perempuan yang ada uang Abang sayang, tidak ada uang Abang melayang! Biar Mike setel hebat dengan dompet kosong, cinta Mariana tidak pudar, justru makin membara untuk mengubahnya melalui jalur doa. Sifat rajin dan ketulusan Mariana itu adalah tamparan paling keras untuk kelakuan malas suaminya, entah kapan Mike akan sadar.”
Pertengkaran itu terus bersahut-sahutan dengan sengit, membelah warga warung sayur menjadi dua kubu antara yang mengasihani, mengutuk, dan mengagumi keteguhan batin serta fisik Mariana dari jauh. Namun, Mariana tidak pernah peduli pada dunia luar. Ia hanya peduli pada satu jiwa: Mike.
Beberapa hari setelah gunjing di warung sayur itu kian memanas, sebuah panggilan mendadak datang dari kantor desa. Mike diminta menghadap secara khusus. Di dalam ruangan kerja yang sepi dan berbau kayu tua, Kepala Desa—seorang pria paruh baya yang sangat dihormati—duduk tenang di balik mejanya. Namun, ketenangan itu justru membawa tekanan atmosfer yang luar biasa berat.
“Mike,” panggil Kepala Desa dengan suara yang sangat halus, hampir seperti bisikan seorang ayah yang sedang menasihati anaknya. Namun, sorot matanya tajam menghujam dan rahangnya mengeras menahan amarah besar yang siap meledak. “Kampung ini punya adat dan aturan. Tapi yang lebih penting, kita semua ini manusia yang punya nurani. Saya sudah mendengar semua. Berkata kasar pada istri setiap hari… tidak memberi nafkah, malas, dan malah memeras keringat istri demi hobi mabuk. Tindakan itu sudah melampaui batas dan melawan hukum!”
Tubuh Mike seketika menegang. Telinganya memerah membara, menahan gejolak penolakan yang membakar dadanya. “Pak Kades!” potong Mike dengan nada tinggi dan tidak tahu diri, wajahnya menantang. “Ini urusan dalam rumah tangga saya! Urusan tempat tidur dan dapur kami! Kenapa orang lain tukang campur?”
“Ini menjadi urusan desa kalau ada warga yang ditindas dan dianiaya secara keji, Mike!” suara Kepala Desa naik beberapa oktav, menghantam meja kerja hingga membuat atmosfer ruangan begitu mencekam. “Pulanglah, dan bersihkan otakmu sebelum hukum yang berbicara!”
Mike keluar dari kantor desa dengan napas memburu dan langkah kasar. Otaknya dikuasai oleh kabut amarah dan satu kesimpulan sepihak: Mariana pasti telah bermulut ember dan melaporkan kebusukannya kepada Kepala Desa.
Setibanya di rumah, pintu depan dihantamnya dengan tendangan keras. Mariana yang baru saja selesai menata toples-toples kue untuk jualan besok pagi terlonjak kaget. Sifatnya yang selalu rajin dan siap minta ampun membuatnya langsung melangkah maju untuk menyambut suaminya dengan lembut. Namun, sepasang tangan kekar Mike yang berbau alkohol sudah lebih dulu mencengkeram kerah bajunya dengan beringas.
“Dasar perempuan mulut ember! Kau lapor apa di Kepala Desa, hah?!” bentak Mike, urat-urat lehernya menegang seperti tali tambang. “Kau mau bikin saya malu di kampung ini?!”
“Mike, demi Tuhan… saya tidak pernah membawa urusan rumah kita keluar dari pintu ini…” ucap Mariana lirih, menatap suaminya dengan mata jernih yang penuh ketulusan pasrah.
“Bohong! Perempuan bermuka dua!”
Plak! Bugh!
Satu pukulan mentah mendarat di perut Mariana, membuat wanita cantik itu tertekuk menahan perih yang luar biasa. Tidak berhenti di situ, Mike yang sudah gelap mata dan keras hati menghajarnya kembali secara keji. Mariana tersungkur di lantai pengap, menerima setiap hantaman fisik dan makian yang menyakitkan. Darah segar merembes dari sudut bibirnya, membasahi lantai semen yang dingin, dekat dengan meja tempat ia biasa menyiapkan kue dagangannya.
Namun, di tengah badai siksaan itu, kemampuan batin Mariana bekerja secara total. Tidak ada satu pun makian, serangan balik, atau hinaan yang keluar dari mulutnya. Ketika Mike akhirnya berhenti karena kelelahan dan rasa frustrasi yang aneh, Mariana perlahan bangkit. Dengan tubuh gemetar dan sisa tenaga yang ada, ia merapikan bajunya, menatap Mike, lalu menarik sebuah senyuman tulus yang teramat dalam. Senyum penuh pengampunan yang justru membuat Mike merinding ketakutan karena merasa egonya dilucuti habis.
Dalam keheningan batinnya, Mariana kembali berbisik. Biar dipukul hingga berdarah, saya akan tetap tinggal di rumah ini demi cinta suci kita.
Rasa bersalah yang asing dan mencekik mulai menggerogoti dinding keangkuhan Mike. Bayangan senyum tulus Mariana saat wajahnya berdarah terus menghantui tidurnya. Merasa jiwanya tersiksa dan dikalahkan oleh kelembutan istrinya, Mike berjalan gontai mengunjungi rumah masa kecilnya untuk menemui pria tua yang selalu ia sapa Papa.
Di beranda rumah yang teduh, Papa menerima kedatangan Mike. Setelah keheningan yang cukup lama, Mike akhirnya runtuh. Dengan suara bergetar dan tatapan kosong ke lantai, Mike menceritakan seluruh kejahatannya.
“Papa… saya ini orang yang tak tahu diri. Setiap hari saya meluapkan kekerasan fisik dan psikologis pada Mariana. Kemarin saya kembali menghajarnya hingga berdarah karena menuduhnya mengadu kepada kepala desa, padahal dia tidak melakukannya.”
Papa diam. Kerutan di wajah tuanya mendalam, matanya menatap Mike dengan kekecewaan yang sangat berat namun tetap tenang.
“Lalu, bagaimana reaksi Mariana saat itu?”
Mike mencengkeram rambutnya sendiri, suaranya pecah menahan tangis frustrasi.
“Itulah yang membuat jiwaku tersiksa, Pa! Tidak sekali pun ia membalas dengan hinaan atau pukulan balik. Setelah saya pukul, dia bangun, menatapku, dan senyum yang sangat tulus. Sebelum tidur, dia tetap meraih tangan kasar ini, mengajak berdoa karena Tuhan masih memberi kami kesempatan hidup lebih lama. Teman-temannya menyuruhnya cerai, tapi ia bilang dia siap mati bersama saya.”
Papa menghela napas panjang, menatap lurus ke dalam manik mata putranya yang kini tampak rapuh dan hancur oleh dosanya sendiri.
“Mike, pernahkah kaulihat Papa marahi dan tampar Mamamu? Pernah?”
“Tidak pernah!”Jawab Mike
“Mengapa kini engkau buat yang berbeda?”
“Ampun sudah, Papa!” Mike tiarap mencium lutut papanya.
Papa menepuk pundak Mike dengan lembut dan mendaraskan doa agar Tuhan mengampuni dan menghapus dosa Mike baik dosa terhadap Mariana maupun orang lain.
“Mike, di tengah badai rumah tanggamu, masih ada lentera cinta yang bercahaya. Mariana adalah belahan jiwamu yang seutuhnya. Waktu masih ada, pergilah! Cintailah dia sebagaimana halnya engkau mencintai dirimu sendiri .”
Nasihat Papa malam itu menjadi gada yang menghancurkan seluruh keangkuhan dan kekejaman di dada Mike. Beberapa hari kemudian, Mike dan Mariana berbaring dalam satu kamar. Kamar dan ranjang pengantin masa lalu menjadi saksi bisu dan air mata sunyi. Mike menatap wajah Mariana yang sedang terpejam. Rasa penyesalan yang teramat dalam dan kekecewaan berat pada dirinya sendiri membuat dada Mike terasa sesak.
Dengan ketulusan yang pasrah dan total, Mike perlahan mengikis jarak. Ia merangkul tubuh Mariana dengan sangat lembut, seolah takut menyakiti wanita yang selama ini ia sia-siakan. Sentuhan itu membuat Mariana membuka matanya perlahan.
Malam ini, tidak ada lagi ketakutan di mata Mariana. Mike mendekatkan wajahnya, lalu mendaratkan ciuman mesra yang berulang-ulang di kening, pipi, dan bibir istrinya yang pernah terluka oleh tangannya sendiri. Air mata Mike luruh deras, membasahi wajah mereka berdua.
“Sayang… saya minta ampun,” bisik Mike dengan suara yang pecah karena tangis penyesalan yang teramat dalam. “Demi Tuhan dan demi janji suci kita, saya bersumpah. Sumpah!Tobat, tobat dari segala kejahatan. Kini saya sangat kecewa dan malu atas kekerasan itu. Ampun, Sayang! Ampun, Sayang”
Mike terus mengulang-ulang permintaan ampun itu di sela ciumannya yang bertubi-tubi. Kelembutan seorang istri pada akhirnya benar-benar meruntuhkan dan mengalahkan kerasnya hati seorang suami. Mariana tersenyum hangat, menyeka air mata penyesalan Mike, memeluk suami dan mendaraskan cium kehangatan total di bibir Mike, kekasihnya.
Malam itu, mereka menyatukan hati dalam doa syukur yang paling indah. Sejak saat itu, Mike mengawali hari barunya bersama Mariana dengan cerita indah yang penuh damai dan kemesraan yang abadi, sampai akhir hayat memisahkan mereka.

***

Biodata Penulis:
Aster Bili Bora lahir di Sumba Barat, 28 Oktober 1958. Tamatan SDK Pasono Bendu 1971, SMPK Kalembu Weri 1974, SMAK Anda Luri 1977, Pendidikan S1 Bahasa dan Seni FKIP Undana Kupang 1983. Guru SNAKMA Negeri Kupang 1982-1986, SMA Negeri 1 Waikabubak 1986-2000, Kepala SMA Negeri 1 Loura 2000-2007, Koordinator Pengawas 2007-2013. Pensiun dini dari PNS dan terjun dalam politik sebagai calon DPRD Provinsi 2013.
Penulis yang berbakat organisasi ini terpilih sebagai ketua PGRI Kabupaten Sumba Barat Daya dua periode (2008-2020), Wakil Ketua PGRI Sumba Barat Daya 2020-2025, Pembina Yayasan Pendidikan PGRI 2008-2025. Pendiri SMA PGRI Tambolaka 2013, SMP PGRI Mandungo 2016, dan pendiri Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat PRIMA BUDI 2016, Penasihat dan penggagas Asosiasi Peternak Unggas Sumba Barat Daya 2022
Dalam kegiatan menulis, awalnya sebagai jurnalis 1979-1986. Setelah diangkat jadi PNS, ia menghabiskan waktu luangnya dengan menulis. Karya-karyanya berupa Opini, Esai, puisi, dan cerpen dimuat di surat kabar dan majalah, antara lain: Harian: Tegas Ujung Pandang, Suara Karya Jakarta, Pos Kupang, Timor Expres Kupang, Victorynews Kupang, majalah: Fakta Jakarta, Femina Jakarta, Hidup Jakarta, expontt.com, dan satusumba.com
Antologi cerpennya: Bukan sebuah jawaban (1988), Matahari jatuh (1990), dan Bilang saja saya sudah mati ( 2022). Antologi cerpennya yang juga segera akan terbit berjudul: Laki yang terbuang dan Lahore. Lima karya puisi dari penulis ini juga dimuat dalam Antologi bersama 51 penyair NTT pada tahun 2018 dengan judul: Seruling Perdamaian Dari Bumi Flobamora, dua cerpen dalam antologi bersama dengan judul Tanah Langit NTT tahun 2021, dan antologi esai bersama 32 pengarang dengan judul: Gairah Literasi Negeriku tahun 2021, Gairah Literasi Mencerahkan Hati tahun 2022, Cambuk Kehidupan tahun 2023, Peribahasa 2 (tahun 2025), Antologi cerpen bersama 20 pengarang lain dalam buku: Senandung Kata, Merangkai Cerita (tahun 2025), Antologi Puisi bersama 13 pengarang lain dalam buku: Jejak Rindu di Ujung Kata (tahun 2025). Karya novel yang sedang dalam persiapan berjudul: Laki yang kesekian-sekian.