Berjaga-Jaga Di Tengah Ketidakpastian

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Setiap manusia siapapun kita, tidak akan pernah tahu kapan Tuhan datang menjemput kita. Maka, sikap yang bijaksana adalah kita harus berjaga-jaga dengan berdoa, berpuasa dan bersedekah dalam bingkai pertobatan. Dengan demikian, kapan pun Tuhan datang, kita sudah siap siaga selalu.

Renungan hari ini, terinspirasi dari Injil Matius 24: 42 – 51, yakni nasihat supaya Berjaga-jaga dan perumpamaan tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat. Para saudaraku,
dunia modern penuh dengan ketidakpastian. Setiap hari kita disuguhi berita tentang krisis, konflik, bencana, dan penyakit baru. Namun ada satu ketidakpastian yang sering kita abaikan: kedatangan Tuhan. Yesus berkata, “Kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang”. Ia tidak bermaksud menakutkan, melainkan mengingatkan agar kita selalu siap. Sayangnya, manusia sering menunda. Menunda doa, menunda kebaikan, menunda pertobatan, seolah masih ada waktu. Rutinitas dan kesibukan membuat kita lupa berjaga-jaga. Padahal justru karena kita tidak tahu kapan Tuhan datang, setiap hari menjadi kesempatan berharga untuk hidup setia. Berjaga-jaga bukan berarti berhenti bekerja atau duduk tegang menatap langit. Berjaga-jaga berarti tetap menjalankan tugas dengan kesadaran penuh bahwa setiap saat bisa menjadi saat perjumpaan dengan Tuhan. Hamba yang bijaksana tetap memberi makan seisi rumah pada waktunya; ia setia dalam hal kecil, dan itulah persiapan terbaik untuk hal besar. Sebaliknya, hamba yang lalai berkata, “Tuanku lambat datang,” lalu hidup sembrono. Dari kelalaian kecil lahirlah kehancuran besar. Empat pilar rohani menjadi cara kita berjaga: Berdoa menjaga hubungan dengan Tuhan di tengah hiruk-pikuk dunia. Berpuasa melatih diri agar tidak dikuasai keinginan instan.Bersedekah membuka mata pada sesama, tanda iman yang hidup. Bertobat kembali setiap hari, menjaga HATI tetap lembut di hadapan Tuhan.

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, ketidakpastian bukan alasan untuk lalai, melainkan panggilan untuk hidup lebih waspada. Kita tidak tahu kapan Tuhan datang, tetapi kita tahu siapa yang kita tunggu. Maka berjaga-jagalah dengan doa yang tulus, tangan yang memberi, dan HATI yang terus bertobat. Kiranya ketika Ia datang tiba-tiba, Ia mendapati kita bukan sedang tertidur dalam kelalaian, melainkan berjaga dalam kasih. Dan saat itu, kita akan mati bahagia, karena hidup kita telah dipersiapkan sebagai persembahan yang setia. Yesus bersabda:
“Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu pada waktu tuannya datang.” (Matius 24:46)

Pertanyaan Refleksi

1. Apakah saya tetap setia menjalankan doa, tugas, dan pelayanan kecil setiap hari, meski hidup penuh ketidakpastian?
2. Apakah kesibukan dan rutinitas membuat saya lalai berjaga-jaga, sehingga melupakan Tuhan dalam keseharian?
3. Jika Tuhan datang tiba-tiba, apakah Ia mendapati saya siap dengan HATI yang berdoa, tangan yang memberi, dan hidup yang bertobat?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Yesus, di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, ajarilah kami untuk selalu berjaga-jaga. Jangan biarkan kesibukan dan rutinitas membuat kami lalai akan kehadiran-Mu. Teguhkan hati kami untuk berdoa, memberi, dan bertobat setiap hari, agar ketika Engkau datang tiba-tiba, Engkau mendapati kami setia dan siap menyambut-Mu. Amin.