Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari terkadang kita lupa bersyukur atau berterima kasih kepada Tuhan dan sesama yang telah berbuat baik kepada kita. Kita lebih banyak masa bodoh, cuek dengan perhatian, atau perbuatan baik sesama sekalipun itu Kecil. Ingat, Tuhan menyapa kita melalui sesama, melalui tindakan atau peristiwa yang kecil. Keapatisan atau kecuekan kita, menandakan kita adalah orang yang sombong. Tanpa kita sadari kita adalah penggarap – penggap yang jahat, dan sombong. Pada hari ini kita memasuki hari Minggu biasa XXVII.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 21: 33 – 43, yakni perumpamaan tentang penggarap – penggarap kebun anggur. Para saudaraku, Yesus mengisahkan tuan kebun anggur yang memberi kepercayaan penuh kepada para penggarap. Namun alih-alih BERSYUKUR, mereka merasa berhak, menolak memberi hasil, bahkan membunuh utusan dan anak tuan itu. Perumpamaan ini bukan sekadar kisah lampau, melainkan cermin bagi kita hari ini. Kita pun sering bersikap seperti penggarap yang sombong. Merasa semua pencapaian adalah hasil kerja keras sendiri: rumah, jabatan, kesehatan, talenta. Padahal semuanya hanyalah titipan. Napas, waktu, kesempatan, bahkan perhatian kecil dari sesama adalah anugerah. Ketika rasa berhak tumbuh, SYUKUR mati. Dan HATI yang mati rasa mudah berubah menjadi: apatis, cuek, tidak peduli pada sesama. Di dunia modern, sikap apatis itu nyata. Kita sering mengabaikan perhatian sederhana: senyum, sapaan, bantuan kecil. Kita sibuk dengan teknologi, pekerjaan, atau kesenangan pribadi, hingga lupa bahwa Tuhan hadir dalam wajah sesama. Menolak atau meremehkan kebaikan kecil sama saja dengan menolak Sang Pemilik kebun. Itulah mentalitas penggarap jahat yang akhirnya binasa. Tuhan tidak menuntut sekadar kehadiran, melainkan BUAH. Hidup yang penuh BERKAT tetapi tidak BERBUAH bagi sesama adalah hidup yang gagal. Namun kabar baiknya: Sang Tuan tetap sabar. Batu yang dibuang manusia justru dijadikan-Nya batu penjuru. Kesempatan untuk bertobat selalu terbuka, asal kita mau kembali rendah HATI dan bersyukur.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, hidup ini bukan milik kita, melainkan titipan. Syukur adalah tanda penggarap sejati: melihat BERKAT dalam hal-hal kecil. Rendah HATI adalah sikap pohon berbuah: semakin berisi, semakin menunduk. BUAH nyata adalah tujuan hidup: KASIH, PELAYANAN, PERHATIAN, KESETIAAN. Mari kita bertanya: jika Sang Tuan datang hari ini, adakah BUAH yang bisa kita persembahkan? Jangan biarkan kebun HIDUP kita indah di luar, tetapi kosong di dalam.Tuhan hadir dalam sesama yang memberi perhatian kecil. Jangan abaikan. Jangan sombong. Jadilah penggarap yang tahu berterima kasih, SETIA, rendah HATI, dan BERBUAH bagi kemuliaan-Nya.
Pertanyaan Refleksi
1. Apakah aku sungguh menyadari bahwa hidup, talenta, dan kesempatan hanyalah titipan Tuhan, ataukah aku masih merasa semuanya adalah hasil jerih payahku sendiri
2. Bagaimana sikapku terhadap perhatian atau tindakan kecil dari sesama, apakah aku menghargai dan bersyukur, atau justru bersikap cuek dan apatis?
3. Jika Sang Tuan datang hari ini, BUAH apa yang bisa kutunjukkan dari hidupku KASIH, PELAYANAN, KESETIAAN, atau justru kebun yang indah di luar tetapi kosong di dalam?
Selamat berefleksi…& Selamat berhari Minggu🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan, terima kasih atas hidup dan segala titipan-Mu. Ampunilah bila kami sering sombong, merasa berhak, dan cuek terhadap perhatian kecil dari sesama.
Ajarilah kami rendah HATI, BERSYUKUR, dan SETIA menghasilkan BUAH KASIH serta PELAYANAN bagi-Mu dan sesama. Amin




