Tuhan Mengetahui Kejahatan Hati Manusia

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Tuhan sangat mengenal kita dengan sangat baik. Dia menyelami isi hati dan pikiran kita yang paling dalam sekalipun, entah itu hati yang baik, hati yang jahat atau pikiran yang positif maupun pikiran yang negatif. Pada hari ini kita memasuki hari Minggu biasa XXIX.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 22: 15 – 21, yakni tentang membayar pajak kepada Kaisar. Para saudaraku, orang-orang Farisi dan Herodian datang kepada Yesus dengan kata-kata yang sopan dan pujian yang indah. Namun, di balik semua itu tersembunyi niat jahat: mereka ingin menjerat-Nya. Mereka berharap Yesus terjebak dalam pertanyaan tentang pajak kepada Kaisar. Tetapi Injil mencatat sebuah kalimat yang sangat kuat: “Yesus mengetahui kejahatan HATI mereka.” Tuhan tidak hanya mendengar apa yang diucapkan; Ia melihat apa yang tersembunyi di dalam hati. Inilah kebenaran yang sering dilupakan manusia. Kita mungkin mampu menyembunyikan motif dari orang lain, tetapi tidak pernah dari Tuhan. Di hadapan manusia kita bisa tampil saleh, bijaksana, dan tulus, namun Tuhan melihat alasan terdalam dari setiap perkataan, keputusan, dan tindakan kita. Dalam kehidupan modern, manusia jarang menjerat Tuhan dengan pertanyaan seperti orang Farisi. Namun, kita sering melakukannya dengan cara yang lebih halus. Kita berdoa, tetapi sebenarnya sudah menentukan jawabannya sendiri dan hanya meminta Tuhan menyetujuinya. Kita melayani, tetapi diam-diam mengharapkan pujian. Kita mencari ayat Kitab Suci bukan untuk menemukan kehendak Allah, melainkan untuk membenarkan keinginan pribadi. Bahkan tidak jarang kita memperlakukan doa sebagai sarana menekan Tuhan agar memenuhi rencana yang sudah kita susun. Ketika keinginan kita tidak terwujud, kita kecewa dan mempertanyakan Tuhan. Ketika doa tidak dijawab sesuai harapan, kita mulai menggugat-Nya. Tanpa sadar, kita ingin Tuhan mengikuti kehendak kita, bukan kita yang mengikuti kehendak-Nya. Di situlah kita sedang mencoba “menjerat” Tuhan dengan ambisi, ego, dan kepentingan kita sendiri.
Namun kabar baiknya, Tuhan yang mengetahui isi HATI bukan pertama-tama datang untuk menghukum, melainkan untuk menyelamatkan. Ia menyingkapkan ketidakmurnian HATI agar kita berani bertobat. Ia membuka topeng yang kita pakai agar kita kembali hidup dalam kejujuran. Sebab yang dicari Tuhan bukan kesempurnaan lahiriah, melainkan HATI yang rendah HATI dan terbuka di hadapan-Nya.

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, jangan datang kepada Tuhan dengan HATI yang ingin mengatur-Nya. Datanglah dengan HATI yang mau dibentuk oleh-Nya. Sebab Tuhan tidak pernah dapat ditipu, tetapi juga tidak pernah menolak orang yang jujur. Ketika segala topeng dilepaskan dan segala kepura-puraan disingkirkan, di situlah KASIH dan rahmat-Nya bekerja paling dalam. Hari ini, mungkin pertanyaan terpenting bukanlah “Apa yang Tuhan harus lakukan untukku?”, melainkan “Apa yang Tuhan lihat dalam hatiku?” Sebab perubahan hidup selalu dimulai ketika kita berani berdiri di hadapan-Nya apa adanya dan berkata: “Tuhan, Engkau mengenal aku sepenuhnya. Bentuklah hatiku menurut kehendak-Mu.”

Pertanyaan Refleksi

1. Apakah saya datang kepada Tuhan dengan HATI yang jujur?
2. Apakah saya lebih mencari kehendak Tuhan atau kehendak saya sendiri?
3. Bagian HATI apa yang perlu saya serahkan kepada Tuhan hari ini?

Selamat berefleksi..& Selamat berhari Minggu🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Yesus yang Mahatahu, Engkau mengenal seluruh isi hatiku, bahkan apa yang tidak mampu kuungkapkan dengan kata-kata. Ampunilah aku bila sering datang kepada-Mu dengan motif yang tidak murni dan kehendak yang lebih kuutamakan daripada kehendak-Mu. Bersihkan hatiku dari kepura-puraan, ajarilah aku hidup dalam kejujuran, dan tuntunlah aku untuk selalu mencari kebenaran-Mu. Semoga aku berani datang kepada-Mu apa adanya dan membiarkan kasih-Mu membaharui hidupku. Amin.