Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita tidak atau kurang peka terhadap kehadiran Tuhan, sesama dan lingkungan. Apalagi ketika kita ber Hp an, sering kali yang dekat menjadi jauh dan yang jauh menjadi dekat, sehingga kita menjadi mati rasa, tidak atau kurang peka dengan dunia sekitar kita.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 12: 54 – 59, yakni menilai zaman. Para saudaraku,
dalam Injil hari ini, Yesus menegur orang-orang yang mampu membaca tanda-tanda alam, tetapi gagal mengenali tanda-tanda kehadiran Allah dalam hidup mereka. Mereka tahu kapan hujan akan turun dan kapan panas akan datang, tetapi tidak menyadari bahwa Tuhan sedang berkarya di tengah-tengah mereka. Teguran itu terasa sangat dekat dengan kehidupan manusia modern. Kita hidup di zaman yang dipenuhi informasi, notifikasi, dan kesibukan tanpa henti. Setiap hari mata kita tertuju pada layar, jari kita sibuk menggulir berbagai berita dan media sosial. Kita mengetahui banyak hal yang terjadi di dunia, tetapi sering kali kurang peka terhadap apa yang terjadi di sekitar kita. Kita melihat, tetapi tidak sungguh memperhatikan. Kita mendengar, tetapi tidak sungguh mendengarkan.
Akibatnya, kita mudah terjebak dalam “dunia” kita sendiri. Kita terlalu sibuk dengan pekerjaan, target, hiburan, dan urusan pribadi sehingga kurang menangkap jeritan sesama yang membutuhkan perhatian. Kita terbiasa melihat kemiskinan, kesepian, ketidakadilan, atau kerusakan lingkungan sebagai pemandangan biasa. Bahkan, ketika Tuhan menyapa melalui peristiwa sehari-hari, melalui keberhasilan, kegagalan, sakit, kehilangan, atau perjumpaan dengan orang lain, kita sering tidak menyadari pesan yang hendak disampaikan-Nya.
Yesus mengundang kita untuk memiliki HATI yang peka. Kepekaan bukan sekadar kemampuan melihat peristiwa, melainkan kemampuan menemukan makna dan kehadiran Allah di balik setiap peristiwa. Hati yang peka akan lebih mudah mengenali wajah Kristus dalam diri sesama, mendengar panggilan Tuhan di tengah kesibukan, dan merasakan tanggung jawab untuk merawat ciptaan-Nya. Orang yang peka tidak menunggu sampai masalah menjadi besar untuk bertindak. Ia tergerak oleh kasih, cepat tanggap terhadap kebutuhan orang lain, serta mau bertanya dalam setiap situasi: “Tuhan, apa yang hendak Engkau ajarkan kepadaku hari ini? Apa yang dapat kulakukan bagi sesamaku?”
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, di tengah dunia yang semakin bising, cepat, dan membuat banyak orang larut dalam dirinya sendiri, Tuhan mengajak kita untuk berhenti sejenak dan membuka HATI. Jangan sampai kita mengenal banyak hal tentang dunia, tetapi kehilangan kepekaan terhadap Tuhan, sesama, dan lingkungan. Sebab sering kali Tuhan tidak hadir dalam peristiwa yang spektakuler, melainkan dalam hal-hal sederhana yang kita jumpai setiap hari: sapaan seorang sahabat, air mata seorang yang menderita, keheningan doa, atau suara alam yang meminta untuk dijaga. HATI yang peka akan menemukan Tuhan di mana-mana. Sebaliknya, HATI yang tertutup akan kehilangan Tuhan bahkan ketika Ia berdiri sangat dekat. Maka, marilah kita tidak hanya menjadi orang yang sibuk menjalani hidup, tetapi juga pribadi yang mampu membaca tanda-tanda KASIH Allah yang terus hadir dan bekerja dalam setiap langkah kehidupan kita.
Pertanyaan Refleksi
1. Apakah saya masih peka mendengar suara Tuhan dalam hidup saya sehari-hari?
2. Siapa sesama di sekitar saya yang saat ini membutuhkan perhatian dan kepedulian saya?
3. Apa yang dapat saya lakukan hari ini untuk lebih peduli kepada sesama dan lingkungan?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus yang baik, bukalah mata hati kami agar semakin peka melihat kehadiran-Mu dalam setiap peristiwa hidup. Ajarlah kami untuk tidak hanya sibuk dengan diri sendiri, tetapi juga peduli kepada sesama dan lingkungan di sekitar kami. Semoga kami mampu mendengar suara-Mu, merasakan kasih-Mu, dan setia menanggapi panggilan-Mu setiap hari. Amin




