Ringkasan Kisah Abraham Paul Liyanto

Herman Musakabe: Saya Mengenal Paul Sebagai Manusia Kaya Arti

Ringkasan Kisah Abraham Paul Liyanto

Biografi ini berisi jejak-jejak perjuangan Abraham Paul Liyanto keluar dari kondisi kehidupan yang serba minus di Kota Kupang sejak masa sekolah sampai menjadi seorang insinyur, arsitek profesional, pebisnis, pendiri yayasan pendidikan Citra Bina Insan Mandiri, dan menjadi Anggota DPD RI selama empat periode.

Ia tidak dilahirkan dari keluarga yang berkecukupan. Tetapi itu pun tidak mematahkan tekad dan semangatnya untuk memperbaiki nasib. Sebagai anak ke-lima dari sembilan bersaudara, Paul memahami bahwa penghasilan ayahnya tak cukup untuk menjamin masa depan mereka semua.

Kondisi seperti itu justru memacu Paul untuk berusaha membantu orangtuanya. Ia membantu ibunya membuat kue-kue dan berkeliling menjual kue-kue itu. Ia juga menjual rokok ketengan, minyak tanah dan bensin, serta menitipkan jualannya di kios-kios untuk mendapat penghasilan tambahan.

Tak seberapa hasil dagangannya, tapi pengalaman itu memberinya pelajaran bahwa tak perlu malu melakukan pekerjaan yang halal untuk mendapat penghasilan. Pelajaran pertama berwirausaha.

Perkara Kecil,

Paul juga pernah dimarahi ibunya karena tak tahu bagaimana seharusnya menawar harga sayur dan daging. Sebab sayur itu terlampau mahal untuk ukuran sekecil yang dibelinya; sementara daging yang dibelinya itu lebih banyak tulangnya daripada dagingnya.

Di situ ia belajar tentang prinsip efisiensi dalam bisnis, bahwa kualitas barang yang dibeli harus setimpal dengan uang yang dikeluarkan, karena tak mudah mencari uang, padahal sekali dibelanjakan, uang itu tak kembali lagi.

Sampai menjadi pelajar SMA Giovanni Kupang, Paul masih juga memikul air, bolak-balik lima kali jalan setiap hari untuk mengisi drum di rumah. Bahkan ia pun sering mengambil air dari Kali Got dan Kali Sembunyi lalu mengguling drum air sampai ke rumahnya di Kuanino. Adakah anak SMA zaman sekarang yang berkeringat

mengguling drum air di Kota Kupang ketika teman-temannya naik mobil atau sepeda motor ke sekolah?

Tapi itu dulu. Kini, semua pengalaman itu tinggal kenangan.

Paul yang dulu bukan lagi Paul yang sekarang. Saat ini Abraham Paul Liyanto adalah Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), posisi yang sudah didudukinya selama empat periode (2009-2029).

Ia juga dipercaya sebagai Ketua Badan Sosialisasi Empat Pilar Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan sering bertugas ke berbagai provinsi untuk menyosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan itu, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika.

Di bidang pendidikan dan kesehatan, Paul adalah pendiri Yayasan Citra Bina Insan Mandiri (CBIM) yang menaungi TK, SD, SMP, SMA, dan Universitas Citra Bangsa (UCB). Ia juga mendirikan Balai Latihan Kerja (BLK) dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES)

serta Fakultas Kedokteran di UCB; dan kini sedang dalam proses membangun Rumah Sakit Citra Husada yang di tahap awal akan berkapasitas 200 tempat tidur. Itu semua dilakukannya karena ia berkomitmen untuk membangun sumber daya manusia NTT yang sehat dan yang memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, serta keahlian yang dapat diandalkan untuk membangun daerahnya, agar sumber daya manusia NTT mampu bersaing di era globalisasi ini.

Anak Kuanino yang dulu berkeliling menjual kue dan mengguling drum air itu kini telah menjadi seorang pebisnis yang tangguh, seorang manajer transformasi, dan tokoh nasional yang suaranya didengar dan diperhitungkan di Jakarta. Sebab ia penyambung lidah masyarakat NTT, yang secara konsisten menyalurkan aspirasi daerahnya melalui DPD RI kepada Pemerintah Pusat.

Dalam berbagai episode kehidupan Abraham Paul Liyanto—yang diuraikan dalam biografi ini—terdapat banyak pelajaran yang bermanfaat. Bahwa kemiskinan bukanlah halangan untuk menjadi orang sukses. Sebab, di mana ada tekad yang kuat untuk mengubah nasib, di situ akan terbuka jalan. Sebab kemiskinan dapat mengajar lebih banyak hal daripada kemakmuran. Sebab kesulitan dapat membangun ketangguhan yang diperlukan untuk meraih pencapaian jangka panjang. Tantangan hidup menghadirkan sekolah kehidupan.

Semua itu hanya bisa dialami oleh mereka yang mempunyai tekad yang kuat dan terus berupaya untuk memperbaiki nasib.

Banyak orang yang hidup susah di masa kecil, apabila konsisten berjuang meningkatkan kualitas diri, ternyata dapat menjadi orang sukses. Tapi lebih banyak lagi orang yang gagal di masa tua meskipun hidup makmur di masa kecil—karena tidak mengembangkan talenta mereka dan tidak terbiasa untuk hidup mandiri.

Di negeri kita saat ini kemiskinan dan kesenjangan menjadi masalah yang masih sulit diatasi karena berbagai sebab. Salah satunya adalah karena orang-orang yang mampu berbuat sesuatu untuk mengatasi masalah, ternyata lebih suka menjadi penonton.

Padahal, dulu Albert Einstein berkata: “Dunia sudah menjadi tempat yang berbahaya, bukan karena mereka yang berbuat jahat, melainkan karena mereka yang dapat mengatasi masalah hanya menonton dan tidak berbuat apa-apa.”

Di negeri kita sekarang, ada banyak orang yang mampu mengentaskan kemiskinan, tetapi sedikit sekali orang yang benar-benar mau melakukannya dengan hati yang jernih. Bahkan pelbagai macam bantuan kepada golongan ekonomi lemah pun dimotivasi oleh niat pencitraan. Padahal ada ajaran untuk memberi tanpa pamrih.

“Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.”

Nelson Mandela menegaskan, “Selama kemiskinan, ketidakadilan, dan ketimpangan yang mencolok masih ada di dunia kita, tak satu pun dari kita dapat benar-benar beristirahat.” Dalam konteks NTT, salah satu dari mereka yang tak dapat benar-benar beristirahat itu adalah Abraham Paul Liyanto. Ia merasa tertantang

dengan julukan NTT sebagai daerah tertinggal, terluar, termiskin, dan tertipu pula. Itulah sebabnya ia berjuang melakukan sesuatu dalam batas-batas kemampuannya untuk meningkatkan kualiatas SDM di daerahnya melalui lembaga-lembaga pendidikan dan kesehatan masyarakat.

Dalam beberapa kali pertemuan dengannya, saya mendapat kesan kuat bahwa perjuangan Abraham Paul Liyanto masih panjang.

Masih banyak rencana yang akan diimplementasikannya, baik di bidang pendidikan maupun kesehatan.

Mendampingi lima Ketua DPD RI sejak 2011, yaitu Irman Gusman, Mohammad Saleh, Oesman Sapta, LaNyalla Mattalitti, dan kini Sultan Baktiar Najamudin, saya sering berinteraksi dengan Senator Abraham Paul Liyanto. Kesan kuat yang tertanam di hati saya sejak itu adalah bahwa Senator Abraham Liyanto adalah a doer,

not a talker. Dia tak banyak retorika, tapi hasil kerjanya diakui di lembaga negara tersebut, bahkan tetap dipercaya sebagai wakil DPD di MPR. Dalam berbagai kunjungan kerja DPD RI ke luar negeri pun Senator Abraham Liyanto selalu mencari peluang untuk membuka kerjasama yang menguntungkan daerah asalnya.

Dalam hubungan dengan Australia, misalnya, Senator Abraham Liyanto berulang kali mendesak pemerintah Indonesia untuk meninjau kembali perjanjian atau nota kesepahaman dengan Australia tahun 1974 tentang Pulau Pasir. Karena nota kesepahaman itu merugikan Indonesia. Ia yakin bahwa di pulau itu ada makam-makam nenek moyang orang NTT sebagai bukti bahwa sejak dulu pulau tersebut merupakan tempat tinggal warga NTT.

Ketika Australia memenjarakan 218 nelayan asal NTT, Senator Abraham Liyanto mendesak pemerintah untuk berdiplomasi secara intensif dengan pemerintah Australia agar mereka dibebaskan, karena sebagian besar dari mereka berasal dari Pulau Rote.

Para nelayan yang ditangkap itu sebetulnya tidak berniat memasuki wilayah Australia tanpa izin. Mereka hanya mengejar ikan yang kebetulan terus menjauh dan masuk ke perairan Australia bagian utara. Mungkin itu sebabnya mereka heran ketika ditangkap dengan tuduhan illegal fishing. Tapi aturan tetaplah aturan.

Aturan hukum di Australia memang tidak mengenal kompromi.

Karena itu desakan Senator Abraham Liyanto itu perlu ditindaklanjuti oleh Kementerian Luar Negeri agar dicapai format solusi diplomatik yang lebih tepat untuk menangani kejadian seperti itu di kemudian hari. Karena para nelayan yang tak merasa bersalah di Rote tak bisa dilarang untuk mengejar ikan yang berenang bebas di laut lepas dan tidak mengenal batas-batas negara.

Ketika Nirmala Bonat disiksa secara sadis pada 2004 oleh majikannya di Malaysia yang bernama Yim Pek Ha, Abraham Liyanto melakukan berbagai upaya—tanpa pamrih—untuk membebaskannya.

Yim akhirnya dijatuhi hukuman penjara 18 tahun oleh Pengadilan Negeri Kuala Lumpur. Kisah tragis ini juga yang menginspirasi Abraham Liyanto untuk melakukan pelatihan keterampilan bagi calon-calon tenaga kerja migran, agar yang dikirim ke luar negeri jangan lagi mereka yang tak memiliki pengetahuan dan keterampilan, melainkan tenaga kerja terdidik dan terlatih. Kini banyak pekerja migran yang diasuh Abraham Liyanto sudah bekerja dengan nyaman di luar negeri.

Banyak kontribusi gagasan dan hasil kerja Senator Abraham Paul Liyanto yang tak sempat diceritakan dalam buku ini, tetapi yang jelas, ia adalah salah satu dari tokoh-tokoh asal NTT yang sampai sekarang masih mengabdi di pentas nasional. Dan terbukti selama ini bahwa ia mengabdi tanpa pamrih, dengan hati yang jernih, karena kasih. Sesuai ajaran imannya, Abraham Paul Liyanto menyadari bahwa “Tuhan Yesus datang ke dalam dunia untuk melakukan tiga pekerjaan besar: menyelamatkan, mengajar, dan menyembuhkan.”

Untuk menyelamatkan, hanya Dia yang dapat melakukannya secara sempurna. Tapi urusan mengajar dan menyembuhkan dapat dilakukan manusia dengan pertolongan-Nya.

Untuk melanjutkan misi Yesus dalam mengajar dan menyembuhkan itulah maka Senator Abraham Paul Liyanto mendirikan Yayasan Citra Bina Insan Mandiri yang menaungi TK, SD, SMP, SMA dan Universitas Citra Bangsa (UCB).

Fakultas Kedokteran UCB serta Rumah Sakit Citra Husada yang sedang didirikannya adalah bagian dari misi menyembuhkan dan menyehatkan yang dijalankannya sebagai perbuatan kasih untuk menjadi saluran berkat bagi sesama.

Abraham Paul Liyanto tak pernah melupakan masa lalunya di Kota Kupang ketika keluarganya hidup dalam kondisi serba minus.

Tapi perjalanan hidupnya sampai menjadi orang sukses telah memberinya pengertian bahwa oleh karena kemurahan hati Tuhan sajalah maka hidupnya kini diberkati, bahkan semua saudaranya beserta anak-cucu mereka pun diberkati untuk bisa hidup layak dan bahagia.

Tapi justru karena hidupnya diberkati itulah, maka kini ia melakukan berbagai kegiatan bisnis, pendidikan, sosial, kesehatan, dan keagamaan untuk menjadi saluran berkat bagi warga NTT.

Semoga semua warga bangsa kita yang sudah diberkati juga menjadi saluran berkat bagi sesama anak bangsa. Dan semoga biografi ini bermanfaat bagi pembaca. [***]

Jakarta, 5 Oktober 2026

Pitan Daslani

Editor

 

 

Saya Mengenal Paul Sebagai Manusia Kaya Arti

Oleh Herman Musakabe (Gubernur NTT periode 1993-1998 Mayor Jenderal TNI (purnawirawan))

Ketika saya diminta oleh Pak Abraham Paul Liyanto untuk menulis pengantar dalam buku biografinya maka langsung saya menyanggupinya. Alasannya, karena saya mengenal Abraham waktu saya bertugas sebagai Gubernur NTT tahun 1993-1998, baik secara pribadi maupun sebagai pengusaha muda yang juga aktif dalam beberapa organisasi kemasyarakatan, profesi dan olah raga.

Tetapi alasan utamanya adalah karena bidang-bidang yang digeluti Abraham meliputi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), pendidikan, pelatihan, lapangan kerja dan etos kemandirian sangat dibutuhkan NTT. Gagasannya menjadi program prioritas waktu saya memimpin NTT.

Dalam pembicaraan selanjutnya, Pak Abraham meminta saya untuk tidak hanya menulis pengantar tetapi menjadi penulis bagian dari buku tersebut dengan menguraikan tentang manusia kaya arti dan dampaknya bagi masyarakat. Atas dasar permintaan tersebut maka tulisan saya dalam buku ini tidak hanya berisi testimoni terhadap sosok Abarahm Paul Liyanto yang saya kenal, tetapi juga tentang makna predikat manusia kaya arti yang saya sandangkan kepadanya.

Harapannya, agar buku ini selain bercerita tentang ketokohan seorang Abraham dan perjalanan hidupnya, juga mengandung nilainilai luhur kehidupan yang bisa menjadi legacy atau warisan bagi generasi penerus.

Seperti kata pepatah lama, “Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui”. Kesempatan menulis tentang tokoh Abraham dalam buku Otobiografinya, saya gunakan untuk menyebarluaskan filosofi Manusia Kaya Arti melalui pembaca buku ini dan masyarakat pada umumnya.

Dalam usia saya yang sudah lanjut, 86 tahun, saya berusaha menggunakan waktu kairos (kesempatan) dengan sebaik-baiknya untuk menyum-bangkan pikiran yang positif bagi banyak orang.

Saya memberi judul tulisan ini : Abaraham Paul Liyanto, Manusia Kaya Arti. Sebelum membahas lebih lanjut tentang tokoh sentral dalam buku ini, saya perlu menjelaskan tentang ungkapan Manusia Kaya Arti dan mengapa predikat ini saya sandangkan kepadanya.

 

Manusia Kaya Arti

Manusia Kaya Arti adalah manusia yang selalu berusaha memiliki arti atau makna bagi orang lain, dengan selalu memberi kontribusi positif kepada sesama, lingkungan masyarakat, organisasi, bangsa dan negara.

Hidupnya selalu memberikan manfaat bagi sesama. Pengertian “kaya” tidak selalu identik dengan kepemilikan materi atau uang, tetapi bermakna lebih luas yaitu nilai-nilai kehidupan yang membuat seseorang lebih bermartabat dan memberi manfaat bagi sesama.

Manusia Kaya Arti dibutuhkan oleh keluarga, masyarakat, organisasi dan bangsa. Ketidakhadirannya membuat orang merasa “kehilangan” karena ada suatu fungsi yang hilang dan sulit tergantikan.

Manusia Kaya Arti adalah seorang pembelajar yang memiliki hasrat dan semangat tinggi untuk terus menerus belajar seumur hidup tanpa dibatasi oleh usia, ruang kelas, maupun status formal.

Mereka tidak cepat puas dengan pengetahuan yang sudah dimiliki dan selalu siap beradaptasi dengan perubahan zaman.

Mereka belajar sepanjang hayat, menganggap hidup sebagai ruang kelas yang luas dan mau belajar dari siapapun saja serta di mana saja. Mereka menjadikan pengalaman sebagai guru terbaik.

Kegagalan, mereka jadikan cambuk untuk memperbaiki diri. Keberhasilan tidak membuat mereka lupa diri. Menerima koreksi dan kritik untuk memperbaiki diri.

Manusia Kaya Arti lebih mengutamakan dimensi being dari pada having, menjadi manusia bermartabat ketimbang menjadi manusia yang hanya mengejar dan memiliki materi sebagai tujuan hidup.

Budi pekerti luhur terdiri dari perpaduan cipta (pikiran), rasa (perasaan) dan karsa (kehendak) yang menghasilkan perbuatan, sifat, dan perangai mulia sesuai dengan norma serta nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.

Manusia Kaya Arti tidak hanya pintar dan cerdas, tapi juga berbudi pekerti luhur. Ia berhasil karena ditempa oleh pengalaman panjang sejak masa kecil dalam keluarga, di sekolah dan di sekolah kehidupan, bukan secara instan dengan kemudahan materi dan kemanjaan.

Manusia Kaya Arti adalah manusia berdisiplin yang memiliki sikap menghargai waktu, tepat waktu, patuh pada aturan yang berlaku serta bertanggung jawab atas tugas yang diberikan kepadanya. Singapura, Korea Selatan dan Jepang misalnya, menjadi negara yang maju berkat SDM-nya yang berkualitas dan berdisiplin, meskipun sumber daya alam mereka terbatas.

Manusia Kaya Arti adalah manusia yang pandai mengelola waktu karena waktu adalah sumber daya yang sangat terbatas dan tidak dapat diperbarui. Setiap orang diberi jatah waktu chronos (waktu biasa/kuantitatif) yang sama selama 24 jam setiap hari, diberi waktu kairos (peluang, kesempatan) yang datang hanya sekali selama hidup, dan waktu aion (waktu abadi, kekal) setelah kehidupan di dunia. Ada yang pandai menggunakan waktu dan ada yang tidak pandai.

Manusia Kaya Arti harus pandai menginvestasi waktu, tidak membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna, merencanakan kegiatan, menentukan prioritas dan mengeksekusi tindakan pada waktunya.

Manusia Kaya Arti harus pandai menyeimbangkan faktor jasmani dan rohani agar dapat menjalankan tugasnya dengan efektif dan efisien.

Manusia Kaya Arti adalah Man of Action atau manusia yang bertindak, bekerja nyata, mengeksekusi program kerja, lebih suka bekerja dan bergerak, serta menciptakan hasil nyata dari pada banyak bicara.

Manusia-manusia Kaya Arti sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan Daerah NTT yang sudah lama menyandang predikat termiskin, terbodoh dan terbelakang. Singkatan NTT sering diplesetkan dengan “Nusa Tetap Tertinggal”, “Nasib Tak Tentu” atau “Nanti Tuhan Tolong”.

Julukan ini terasa menyakitkan tapi sekaligus juga menjadi cambuk agar kita lebih berusaha memperbaiki apa yang kurang pada diri kita. Ungkapan tersebut harus kita terima sebagai pemacu, pendorong semangat dan motivasi untuk meningkatkan kualitas SDM NTT agar lebih baik dan mampu bersaing di tengah perkembangan nasional dan global yang sangat dinamis. Para pemimpin, tingkat Provinsi, Kabupaten dan Kota, silih berganti selama 67 tahun berdirinya Provinsi NTT. Mereka berupaya mengatasi kemiskinan dengan program kerjanya masing-masing, tetapi keadaan belum berubah secara signifikan. NTT masih berada pada peringkat bawah nasional dalam kemiskinan. Saat ini, NTT menempati posisi provinsi termiskin ke-6 dari 38 provinsi di Indonesia.

 

Potensi Sumber Daya Manusia yang Dapat Dikembangkan

Berbicara mengenai SDM NTT, tidak dapat terlepas dari kekurangan dan kelebihannya serta bagaimana mengembangkan potensi yang ada untuk menjadi kekuatan dalam pembangunan. Potensi SDM adalah kemampuan dasar berupa daya pikir, daya fisik, keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki individu yang dapat dikembangkan, dilatih dan dimanfaatkan untuk mencapai suatu tujuan, baik dalam organisasi, pembangnan daerah dan nasional.

Ada fenomena menarik bahwa orang-orang NTT yang merantau keluar daerah, atau bahkan keluar negeri, tidak sedikit yang berhasil dalam berbagai bidang profesi karena akses ekonomi yang lebih luas, infrastruktur yang lebih baik, lebih memacu diri untuk belajar keterampilan dan pendidikan yang lebih baik serta mampu beradaptasi dengan lingkungan dan kemajuan teknologi.

Selain itu, jaringan sosial, solidaritas daerah asal, ikatan kuat sesama perantau membantu mereka dalam mencari pekerjaan dan bertahan hidup. Hal ini dapat dilihat pada masyarakat diaspora NTT di pulau Jawa pada umumnya, Bali, Papua, Kalimantan, Batam dan di Australia. Profesi yang digeluti antara lain pegawai pemerintah (ASN), anggota TNI, Polri, tenaga kesehatan (perawat), dokter, guru, dosen, tenaga sekuriti, pegiat sosial, advokat, pegiat Pers/ wartawan, wiraswastawan dan wirausahawan.

Putra-putra NTT ada yang berhasil di kancah daerah maupun nasional. Beberapa putra NTT terbaik berhasil menempuh karier sampai tingkat nasional seperti di TNI dan Polri mencapai pangkat Perwira Tinggi bintang tiga, menjabat Menteri dalam Kabinet, Lembaga Negara, Duta Besar, Gubernur Bank Indonesia dan beberapa tokoh NTT mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Sebut beberapa nama, Prof Dr Herman Johannes rektor UGM, Menteri PU dan Pahlawan Nasional, Izaak Heru Doko tokoh pendidikan, pejuang kemerdekaan dan Pahlawan Nasional, Prof Dr Wilhelmus Zakaria Johannes, Ahli Radiologi, Guru Besar UI dan Pahlawan Nasional serta tokoh-tokoh lainnya yang belum disebutkan. Mereka telah memberi kontribusi positif bagi bangsa dan negara, serta identik dengan Manusia Kaya Arti yang menjadi inspirasi dan motivasi bagi generasi muda. Namun di sisi lain, harus diakui juga ada sisi kelam dan penderitaan yang dialami saudarasaudari tenaga kerja Indonesia (TKI) dan tenaga kerja wanita (TKW) asal NTT yang dikirim secara ilegal ke luar negeri.

Alih-alih mendapat pekerjaan untuk memperbaiki taraf kehidupannya, pencari kerja tersebut malah menjadi korban dari tindak pidana perdagangan orang (TPPO), karena menjadi tenaga kerja ilegal di luar prosedur dan ketentuan yang berlaku. Tipikal korban pada umumnya berasal dari desa atau daerah pinggiran, pendidikan rendah, ekonomi lemah dan sulit mendapat pekerjaan.

Mereka umumnya tertipu oleh calo-calo tenaga kerja dan terdesak oleh kondisi ekonomi yang dihadapi. Sedangkan tipikal forced scamming atau penipuan terpaksa, berasal dari kota, pendidikan relatif tinggi (SMA keatas), paham sosial media dan teknologi digital, ekonomi menengah, sulit mendapat pekerjaan, dan ingin bekerja di luar negeri.

Kedua tipikal tersebut di atas bisa menjadi korban. Modusnya tawaran kerja dengan gaji tinggi dan fasilitas menarik, syarat pendaftaran ringan dan mudah, pengalaman dan skill tidak diutamakan, komunikasi secara online, paspor, visa dan tiket pesawat diurus perekrut/agen, ditampung di penampungan tapi tidak ada pelatihan, dan proses cepat tanpa seleksi dan wawancara.

Menurut data Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) NTT, rekapitulasi penanganan TKI/TKW meninggal dunia tercatat sejumlah 147 orang pada tahun 2023 dan 123 orang pada tahun 2024.

Ada pameo “TKI/TKW pulang tinggal nama” atau “pulang dalam peti mati” menggambarkan ironi pahit bahwa alih-alih pulang membawa kesejahteraan dan uang ke kampung, banyak buruh migran asal NTT justru pulang ke tanah air sebagai jenazah akibat eksploitasi, kekerasan dan korban sindikat perdagangan orang ilegal. Data menunjukkan lebih dari 1.114 jenazah Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal NTT dipulangkan dalam kurun waktu 9 tahun terakhir (2017-2026) atau rata-rata 124 jenazah per tahunnya.

Kondisi yang sangat memprihatinkan. Padahal para Pekerja Migran Indonesia (TKI/TKW) menyumbang devisa negara Rp. 430 hingga Rp. 433 triliun sepanjang tahun 2025, yang merupakan penyumbang devisa terbesar kedua bagi Indonesia setelah sektor minyak dan gas (migas). Sumber utamanya adalah pengiriman uang atau remitansi dari negara penempatan utama seperti Malaysia dan negara Asia serta Timur Tengah.

Jumlah pekerja Migran Indonesia tahun 2025 tercatat 296.948 orang, dan PMI dari NTT tercatat 4.163 PMI yang berangkat secara resmi dengan mayoritas bekerja di sektor domestik di Malaysia.

Sementara pekerja migran yang non-prosedural atau ilegal diperkirakan lebih tinggi jumlahnya di lapangan.

Pemerintah daerah (Provinsi, Kabupaten dan Kota) bersama masyarakat, swasta, gereja, dan akademisi dengan melibatkan tokoh masyarakat, adat dan agama serta diaspora NTT perlu mengambil langkah-langkah nyata untuk mengatasi kemiskinan struktural dan kultural, mengurangi pengangguran dengan menciptakan lapangan kerja baru, hilirisasi produk pertanian, peternakan dan sumber daya kelautan, mendorong tumbuhnya UMKM, memperbanyak pendidikan dan keterampilan SDM di bidang pertanian, peternakan, pariwisata, ekonomi kreatif, pembangunan infrastruktur membuka isolasi daerah, pelatihan calon TKI/TKW untuk tenaga terampil/skill ke luar daerah dan luar negeri.

Secara khusus perlu segera mengatasi pekerja migran Indonesia (PMI, TKI, TKW) ilegal atau non prosedural dengan langkah pencegahan di dalam negeri, penindakan tegas sindikat penyalur, hinngga perlindungan dan pemulangan bagi yang sudah telanjur di luar negeri. Hal ini memerlukan kerja sama pemerintah pusat dan daerah, masyarakat dan pihak keluarga korban.

 

Abraham yang Saya Kenal

Saya mengenal Abraham (panggilan akrab Abraham Paul Liyanto) ketika saya bertugas sebagai Gubernur NTT tahun 1993-1998. Abraham waktu itu masih muda (40-an tahun), seorang pengusaha yang aktif dalam beberapa organisasi kemasyarakatan, profesi, sosial dan olahraga. Ia menjadi Wakil Ketua HIPMI NTT, Ketua Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA) Kota Kupang, Wakil Ketua GAPKI NTT, Pengurus Daerah PERTINA NTT, dan Pengurus PORDASI NTT. Nama Abraham yang diberikan orang tua kepadanya mengandung arti mendalam, bukan sekedar nama biasa.

Pemberian nama Abraham oleh orang tuanya dengan harapan dan doa agar anak yang dilahirkan dapat memiliki sifat luhur, kemuliaan ahlak, mengikuti teladan serta jejak langkah Nabi Abraham dalam hidupnya. Dalam Kitab Suci, Abraham dimaknai sebagai Bapa kaum beriman, dan teladan utama ketaatan mutlak kepada Allah.

Namanya yang diubah dari Abram (bapa yang mulia) menjadi Abraham ( bapa banyak bangsa) melambangkan janji Allah bahwa keturunannya akan menjadi berkat bagi seluruh bangsa di muka bumi. Abraham adalah Bapaknya bangsa-bangsa. Nama Abraham disebut dalam kitab suci agama Samawi, yaitu Alkitab (Perjanjan Lama dan Perjanjian Baru) umat Kristen, Tanakh (Kitab Suci Ibrani) bagi umat Yahudi, serta Al-Quran bagi umat Islam (Ibrahim).

Sebagai Gubernur waktu itu, saya memerlukan bantuan orangorang yang aktif dalam organisasi kemasyarakatan agar potensi SDM NTT dalam bidang ekonomi, pendidikan, olahraga dan sosial dapat ditingkatkan untuk mengatasi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Aktivitas berorganisasi ini memerlukan pengorbanan waktu, tenaga dan pikiran karena bersifat nirlaba dan pengabdian kepada masyarakat. Abraham termasuk salah satu yang aktif berorganisasi.

Salah satu contoh adalah Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA) yang dicanangkan Pemerintah Pusat dan dilaksanakan di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota.

GNOTA adalah organisasi sosial nirlaba independen yang berdiri pada 29 Mei 1996 diketuai oleh Ibu Halimah Agustina Kamil, bertujuan untuk mengumpulkan dan menyalurkan bantuan dari masyarakat (orang tua asuh) untuk anak-anak dari keluarga yang kurang mampu. Mencegah anak putus sekolah, mendukung program

Wajib Belajar, menyediakan perlengkapan sekolah (seragam, sepatu, buku, tas, dan alat tulis) serta menumbuhkan semangat belajar siswa.

Sebagai Ketua GNOTA Provinsi NTT waktu itu adalah Bapak Don Putra Gotama sedangkan Abraham adalah Ketua GNOTA Kota Kupang. Dampak positif GNOTA adalah membantu anakanak keluarga kurang mampu agar terus bisa sekolah, mengurangi anak putus sekolah, meringankan biaya pendidikan dasar, serta menumbuhkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial di masyarakat. Prinsipnya, orang yang mampu membantu yang kurang mampu melalui gerakan orang tua asuh.

Selain GNOTA ada program PMTAS (Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah). Program ini dicanangkan Presiden Soeharto pada tahun 1991 dan diperkuat Inpres, bertujuan untuk mengatasi kurang gizi pada anak SD/MI, mendukung wajib belajar 9 tahun, dan meningkatkan prestasi belajar anak di daerah tertinggal atau Desa IDT.

Bentuknya adalah kudapan atau jajanan (bukan makanan berat), mengandung minimal 300 kalori dan 5 gram protein per hari. Diberikan 3 kali dalam sepekan, berjalan selama 9 bulan (108 hari) dalam satu tahun ajaran. Memanfaatkan hasil pertanian lokal dan melibatkan peran serta masyarakat, orang tua murid, komite sekolah dan Ibu-ibu PKK setempat.

 

Sejak Kecil Sudah Belajar Mandiri

Abraham yang lahir tanggal 24 Oktober 1956 di Kupang sejak kecil sudah digembleng oleh sang ayah, Bapak Daniel Niko Liyanto dan Ibu Mariana Ratu Nite untuk menolong diri sendiri dan hidup secara mandiri. Bapak Daniel adalah seorang pegawai PELNI (dulu KPM). Abraham adalah ke-5 dari 9 bersaudara, atau disebut anak tengah.

Anak sulung Harry Lee (sekarang di Australia), kemudian Intje Lee (almarhumah), John Lee (Australia), Franky Lee (Australia), Abraham Paul Liyanto (Kupang), Christofel Liyanto (Kupang), Elinora Liyanto (Australia), Elvis Liyanto (Kupang) dan Diana Liyanto (Australia). Kakak-kakak Abraham masih memakai marga asli Lee (keturunan Tionghoa) sedangkan Abraham dan adikadiknya memakai nama marga Indonesia menjadi Liyanto.

Pada waktu itu keluarga-keluarga umumnya mempunyai anak banyak karena belum ada program Keluarga Berencana (KB) dari pemerintah. Dalam keluarga biasanya anak-anak diberi tugas masing-masing untuk membantu pekerjaan di rumah.

Dalam kondisi masyarakat “Baby boomer” (kelahiran 1946-1964) yang masih menghadapi krisis ekonomi, sesudah Perang Dunia II, pembagian makanan dilakukan oleh ibu secara merata untuk anakanaknya dengan menu lokal.

Abraham bersama saudara-saudaranya sejak kecil sudah dibiasakan mengerjakan sendiri pekerjaan di rumah, seperti mencuci piring, mencuci baju, mengambil air, memasak dan membersihkan rumah. Bukan hanya itu, Abraham juga diajarkan bagaimana berbisnis “kecil-kecilan” seperti menjual minyak tanah, rokok, kue dan lain-lain, sehingga dapat membuka kios kecil.

Abraham beruntung mempunyai orang tua yang mengajarkan dia menjadi Manusia Kaya Arti sejak kecil, yaitu manusia yang mandiri dan dapat memberi kontribusi bagi keluarga dan orang lain. Orang tuanya lebih menekankan bagaimana proses belajar dalam hidup, menolong diri sendiri dan orang lain, bukan hanya semata-mata memperoleh hasilnya. Ia tumbuh menjadi manusia pembelajar dan belajar mandiri.

Waktu SD, Abraham belajar di SD GMIT Kuanino, Kupang yang mengambil tempat di Gereja Kuanino. Karena belum ada gedung sekolah dan fasilitas belajar mengajar yang memadai waktu itu, maka Gereja Kuanino dipakai untuk proses belajar mengajar darurat. Selama jam pelajaran, gedung itu disekat-sekat dan dibagi atas beberapa ruangan kelas dan sesudah jam pelajaran dirapikan kembali untuk kegiatan peribadatan.

Abraham adalah salah satu siswa terbaik di SD GMIT Kuanino saat itu. Dengan demikian, ia berdoa kepada Tuhan dan belajar menimba ilmu di gedung yang sama. Sehingga tidak berlebihan bila ia mengatakan: “Gerejaku adalah Sekolahku.” Setamat dari SD, ia melanjutkan ke SMPN 2 Kupang.

Selain belajar, ia aktif di bidang olahraga basket dan senam lantai. Karena aktivitasnya dalam olahraga bola basket, suatu hari ia terjatuh dan mengalami patah tangan kanannya. Setelah sembuh dari cedera patah tangan, ia melanjutkan hobi menggambar yang kemudian membuatnya mengembangkan talenta mendesain maketmaket bangunan sebagai seorang arsitektur. Tamat dari SMPN 2 Kupang, Abraham melanjutkan ke SMAK Giovanni, Kupang. Di SMAK Giovanni ini bakat menggambarnya makin berkembang dengan dukungan guru pendamping Marcelinus Celly yang melihat talenta itu dalam dirinya. Sampai dengan SMA, ia selalu pergi dan pulang sekolah dengan berjalan kaki 3 km dan jarang naik angkutan umum.

Setelah tamat di SMAK Giovanni, ia melanjutkan kuliah ke Universitas Atmajaya, Yogyakarta, selama 1,5 tahun jurusan Tehnik Sipil. Tetapi kemudian ia pindah kuliah ke Denpasar, Bali, mengambil jurusan Arsitektur dengan pertimbangan biaya yang lebih murah serta lebih mengembangkan talenta yang dimilikinya.

 

Pembelajar dan Pekerja Keras

Tempaan semasa kecil membuat Abraham tumbuh menjadi manusia pembelajar dan pekerja keras serta setia kepada pekerjaannya. Ia tidak hanya mendapat ilmu dari sekolahnya tetapi juga dari orang tuanya yang mengajarkan etos kemandirian seperti berjualan makanan kue dan minyak tanah. Kebiasaan mengerjakan pekerjaan di rumah, membantu orang tua dan berjalan kaki ke sekolah, melatih Abraham menjadi seorang pekerja keras dan tidak manja.

Kehidupan masa kecil dan bersekolah di Gereja GMIT Kuanino membentuknya menjadi manusia berbudi pekerti baik, sekolahnya juga tempat ia berdoa. Ia berkata: “ Barangsiapa setia dalam perkaraperkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.” Firman Tuhan ia gunakan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.

Ada suatu mimpi atau keinginan sejak masa kecil di SD yaitu ingin membangun sebuah rumah bagi kedua orang tuanya, menggantikan rumah yang kecil dan sangat sederhana. Niat baik itu akhirnya dapat terwujud berkat kemauan keras dan talentanya sebagai arsitek.

Rumah tempat ia dan saudara-saudaranya bertumbuh dan mulai belajar usaha kecil-kecilan dibangun menjadi Kantor PT Citra Design dan kemudian menjadi Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang juga mengalami sukses kemudian hari.

Sejak di bangku kuliah, Abraham sudah terbiasa bekerja

sambilan dan mencari uang sendiri. Talenta menggambar akhirnya mendatangkan berkah baginya. Ia bekerja sambilan sebagai desainer, atau disebut sebagai draft man pada proyek-proyek dan rumah tinggal yang memesan jasanya.

Waktu kuliah di Denpasar, ia sempat menjadi peragawan dalam sebuah Mode Show di Pertamina Cottage tahun 1977. Singkatnya, Abraham sudah mulai mencari penghasilan waktu masih kuliah. Proses tempaan waktu masa kanak-kanak, remaja dan menginjak dewasa menjadikan ia semakin kuat dan mantap dalam mengembangkan karier dan pekerjaannya.

Abraham adalah orang yang tahu berterima kasih dan bersyukur. Sikap tahu berterima kasih adalah salah satu sifat utama dan ciri-ciri orang berbudi pekerti luhur dan beriman. Setelah menjadi seorang arsitek dan kembali ke Kota Kupang, maka bangunan pertama yang didesainnya adalah Gereja GMIT Kuanino, Kupang, tempat yang pernah ia gunakan waktu bersekolah SD. Ia sadar bahwa bakat dan talenta yang dimilikinya yang kemudian menjadi bidang profesinya, adalah pemberian Tuhan.

Kini, bangunan gereja itu sudah berdiri dengan megah dan ia aktif sebagai bendahara sekaligus Majelis Gereja.

Kalau pada awalnya kemampuan dan talenta ia lakukan dengan motivasi biogenetik mencari penghasilan untuk membiayai kuliahnya, maka kini ia lakukan dengan motivasi sosiogenetik untuk mendapatkan pengakuan publik, dan menuju pada motivasi teogenetik dengan membangun Gereja tempat jemaat beribadat memuliakan Tuhan.

 

Menjadi Pemimpin

Abraham mulai belajar menjadi pemimpin di dalam keluarganya, sebelum pemimpin di tengah masyarakat. Sebagai “anak tengah”, anak ke 5 dari 9 bersaudara, ia sering menjadi penengah, pelindung dan pemberi solusi di antara saudara-saudaranya. Sebagai anak tengah ia juga bertanggung jawab meneruskan usaha kios yang sudah dirintis kakak-kakaknya.

Peran itu dilakukan sejak SMP sampai tamat SMA. Kemudian ia mendapat kesempatan kuliah di Yogyakarta dan Denpasar, Bali, dengan bantuan uang dari kakak-kakaknya yang bekerja di Australia. Mamanya meninggal tahun 1994 waktu Abraham sudah mulai usaha dan Papa Daniel meninggal 4 tahun kemudian.

Kemimpinannya dilatih mulai dari keluarga, karena di sanalah terjadi interaksi antara sesama saudara, terutama dalam keluarga yang besar, yang memerlukan seseorang yang tampil memecahkan masalah yang dihadapi. Kehadirannya di tengah keluarga membuat rasa aman dan mengayomi saudara-saudaranya.

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan persuasif, empati dengan komunikasi yang baik. Bakat sebagai pemimpin dalam keluarga inilah yang kemudian berkembang dan menghasilkan pemimpin dalam organisasi dan masyarakat. Menjadi pemimpin dalam keluarga secara tidak langsung membentuk kepemimpinan dengan menciptakan pengaruh dan pengikut (followers) yang memerlukan kehadiran sang pemimpin tersebut.

Para pemimpin sejati memang dibuat atau diciptakan (leaders are made) bukan terjadi secara instan. Wadah yang pertama untuk melatih diri menjadi pemimpin adalah di dalam keluarga. Teori tentang kepempimpinan yang menyatakan bahwa pemimpin itu dilahirkan karena talenta atau faktor genetik (leaders are born), harus disesuaikan dengan perkembangan jaman. Masa kini pemimpin itu diciptakan, dibentuk dan dilatih keterampilannya (leaders are made).

Abraham telah melalui berbagai pengalaman dan belajar menjadi pemimpin sejak kecil di dalam keluarga, ditempa oleh kesulitan hidup sejak di bangku sekolah hingga kuliah, bekerja keras dalam profesinya dengan etos kemandirian, aktif dalam berbagai organisasi profesi, sosial dan olahraga serta dipercaya sebagai senator Anggota DPD RI mewakili masyarakat NTT.

Ia setia menjalani semua proses tersebut dan mendengarkan serta menjalankan perintah Tuhan. Firman Tuhan meneguhkannya: “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberukan pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya” (Ulangan 28 : 13-14).

Karya-karya Abraham untuk NTT

Abraham dengan bermodalkan pengetahuan dan talentanya sebagai arsitek dengan dukungan kepemimpinannya mulai melangkah secara pasti untuk berkarya bagi sesama dan masyarakat.

Sebagai anak Kupang ia tahu betul potensi sumber daya manusia yang dimiliki masyarakat lokal dan bagaimana menjadikan potensi itu menjadi kekuatan. Yang diperlukan adalah pendidikan dan pelatihan keterampilan di bidang kesehatan agar SDM lebih berkualitas dan dapat memasuki lapangan kerja.

Ia pandai memanfaatkan peluang waktu kairos dan bersama kawan-kawannya mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Citra Husada Mandiri Kupang (STIKES CHM-K) dan Balai Latihan Kerja (Training Centre) untuk calon TKI dan TKW yang berlokasi di Kota Baru Oebufu, Kupang.

STIKES CHM-K berada di bawah Yayasan Citra Bina Insan Mandiri yang memiliki komitmen tinggi untuk mengembangkan SDM dan Iptek di bidang kesehatan. STIKES ini terdiri dari 3 Program Studi yaitu Keperawatan ( S1 dan Profesi Ners) Prodi untuk menghasilkan tenaga perawat profesional, kebidanan ( D3) Prodi Vokasi untuk pendidikan tenaga bidan, dan Farmasi ( S 1) Prodi sarjana untuk bidang ilmu Farmasi dan obat-obatan.

STIKES CHM-K aktif menjalankan Tri Darma perguruan tinggi yang berfokus pada bidang kesehatan, seperti pelayanan medis bakti sosial, penyuluhan, dan deteksi tumbuh kembang anak di posyandu, serta pengabdian masyarakat di desa-desa binaannya. Jenis kegiatan utama meliputi:

Pelayanan kesehatan dan bakti sosial. Mengirim ratusan mahasiswa untuk melakukan pemeriksaan kesehatan, pengobatan gratis, dan penyuluhan medis di berbagai daerah di NTT.

Pengabdian masyarakat dengan mengusung tema kesehatan spesifik seperti penanggulangan malaria, kehamilan, edukasi obat dan pangan aman bekerjasama dengan Badan POM.

Praktek lapangan dan Posyandu, mahasiswa keperawatan dan kebidanan terjun langsung mendeteksi tumbuh kembang anak balita serta mempromosikan Pola Hidup Bersih dan sehat (PHBS).

Pendidikan dan seminar akademik, menyelenggarakan kuliah pakar, sosialisasi kesehatan dan seminar kampus terkait pencegahan penyakit menular seperti HIV/AIDS.

 

STIKES CHM-K

Pada tahun 2019 STIKES CHMK telah resmi bergabung dengan STKP Citra Bina Nusantara dan kemudian berubah status menjadi Universitas Citra Bangsa (UCB).

Lulusan STIKES CHMK berpeluang bekerja dan mengembangkan karier pada tatanan nasional dan internasional (Amerika, Australia, Kanada, Asia dan Timur Tengah). Peluang tersebut dimungkinkan diraih melalui jaringan kerjasama Yayasan CBIM-K dengan PPTK CBTM Kupang yang bergerak di bidang ketenagakerjaan serta Insitute of Health Science Binawan Jakarta, yang telah memiliki reputasi tingkat nasional dan internasional.

Dengan demikan, Abraham telah menciptakan suatu pendidikan yang bertujuan menghasilkan SDM anak-anak NTT yang memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan yang unggul dalam melaksanakan profesi pada tatanan pelayanan kesehatan, baik tingkat nasional maupun internasional.

Setelah saya memasuki masa purna tugas, agak lama kami tidak berjumpa, sampai saya mendapat berita bahwa Abraham ikut pemilihan Anggota Legislatif Pusat dan kemudian terpilih menjadi Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Daerah NTT periode 2009-2014. Tidak mudah untuk terpilih menjadi Anggota DPD RI karena harus maju secara perseorangan tanpa dukungan partai politik dan mengumpulkan syarat dukungan KTP yang masif di tingkat provinsi.

Kuota Anggota DPD juga sangat terbatas karena setiap provinsi hanya ada 4 anggota DPD yang mewakili daerahnya di tingkat pusat.

Abraham berhasil maju dan menjadi Anggota DPD RI mewakili Provinsi NTT dan rakyat masih menaruh kepercayaan kepadanya sampai 4 periode.

Akhir tahun 2009, saya menerima sebuah pesan singkat (SMS) dari Abraham yang meminta kesediaan saya untuk memberi ceramah umum memotivasi para mahasiswa STIKES CHMK di Kupang.

Sebelum memberi ceramah, saya menyempatkan diri meninjau Balai Latihan Kerja untuk tenaga Kerja Indonesia yang akan dikirim ke luar negeri. BLK tersebut berada satu kompleks dengan kampus STIKES CHMK yang mendidik dan melatih keterampilan anak-anak NTT agar memiliki ilmu sekaligus keterampilan sebelum memasuki lapangan kerja.

Apa yang saya saksikan di STIKES dan BLK binaan Abraham dan kawan-kawan merupakan salah satu wujud nyata dari Program Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia, sejalan dengan 7 Program Strategis yang pernah saya canangkan waktu memimpin NTT.

Sedikit kilas balik waktu untuk mengetahui bagaimana Abraham merintis usaha dari awal, sebagai konsultan, BLK, Yayasan, STIKES, sekolah dari TK sampai Perguruan Tinggi, sebagai berikut:

  1. Tahun 1989, pada usia 33 tahun, ia mendirikan Konsultan CITRA DESAIN di garasi rumah, Kuanino, Kupang. Ia berprofesi sebagai konsultan pada berbagai proyek pembangunan.
  2. Lima belas tahun kemudian, tahun 2005, ia mulai mendirikan Balai Latihan Kerja (BLK) Citra Bina Tenaga Mandiri untuk mengurus TKI/TKW supaya menjadi legal, karena tahun 2004 ada kasus penganiayaan TKW asal NTT Nirmala Bonat yang menghebohkan dunia.
  3. Tahun 2007 ia mendirikan Yayasan Citra Bina Insan Mandiri.
  4. Tahun 2008 mendirikan STIKES Citra Husada Mandiri Kupang (CHMK).
  5. Tahun 2009 mendirikan STKIP Citra Bina Nusantara.
  6. Tahun 2012 mendirikan SD Kristen Citra Bangsa.
  7. Tahun 2013 mendirikan SMP Kristen Citra Bangsa.
  8. Tahun 2014 mendirikan TK Kristen Citra Bangsa.
  9. Tahun 2014 mendirikan SMA Kristen Citra Bangsa.
  10. Tahun 2019 mendirikan Universitas Citra Bangsa.

Sebagai seorang arsitek, Abraham menangani bangunan-bangunan di NTT antara lain Kantor Walikota Kupang, Rumah Jabatan Gubernur NTT, Kantor Bank NTT, Bank BRI, Bank TLM, Kantor PLN di Bundaran PU, Apotik Kupang Farma, Kantor Bupati Sikka, Kantor Pajak Sikka, dan sebagian besar sekolah-sekolah SMP-SMA Negeri serta Puskesmas se-NTT.

Upaya Matching Pendidikan dan Lapangan Kerja

Salah satu masalah yang dihadapi Indonesia, termasuk NTT, adalah angka pengangguran yang masih cukup tinggi. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Provinsi NTT tercatat 3,16% per Februari 2026, di bawah TPT Indonesia yang 4,68%. Jumlah Angkatan Kerja NTT 3,18 juta orang dan Penduduk Bekerja 3,08 juta orang dengan sektor dominan pertanian, kehutanan, dan perikanan menyerap tenaga kerja terbanyak 1,57 juta orang (51,13%). Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) 76,94%.

Diperlukan pencocokan atau matching antara dunia pendidikan dan lapangan kerja agar dapat menekan angka pengangguran dan meminimalkan fenomena mismatch. Terdapat setidaknya 30% hingga 35% pekerja muda mengalami mismatch antara sekolah/kuliah dengan lapangan kerja.

Berdasarkan data lulusan sejak STIKES hingga Universitas Citra Bangsa, total alumni tercatat kurang lebih 75% telah bekerja. Dari jumlah tersebut 18 orang bekerja di Jepang, dan 3.611 orang bekerja di dalam negeri. Sementara itu 1.209 orang belum mendapat pekerjaan atau belum terdata.

Menarik untuk menyimak data alumni per program studi (Prodi) yang telah dihasilkan, berapa yang sudah bekerja, dan tingkat kerja  (prosentase) berikut ini: STIKES CHMK dengan prodi Keperawatan, D3 Kebidanan dan Profesi Ners menghasilkan paling banyak lulusan dan alumninya telah bekerja di Indonesia dan luar negeri.

Keperawatan dengan total alumni 1.594 orang dan telah bekerja 1.196 (75,03%), Kebidanan total alumni 1.411 orang, telah bekerja 1.058 (74,98%) dan Profesi Ners 771 orang, telah bekerja 579 (75.10%).

Para lulusan dan yang telah bekerja merupakan tenaga kerja yang sangat dibutuhkan karena angka kematian bayi di NTT tercatat 25,67 per 1000 kelahiran hidup, berada di atas rata-rata nasional dan angka tertinggi di Indonesia. Wilayah tertinggi di Kabupaten Sabu Raijua, Alor dan Kupang, karena faktor kesehatan, layanan kesehatan yang sulit dijangkau serta berat badan lahir rendah (BBLR).

Farmasi dengan total alumni 445 orang dan telah bekerja 333 orang (74,83%). Pendidikan Guru Sekolah dasar (PGSD) total alumni 374 orang, telah bekerja 281 orang (75,13%), Pendidikan Informatika 126 orang, telah bekerja 94 orang (74.60%) dan Pendidikan Bahasa Inggris 40 orang, telah bekerja 30 orang (75%).

Pendidikan Alih Jenjang Keperawatan 22 orang, telah bekerja 16 orang ( 72.73%), Basis Digital 13 orang, telah bekerja 10 orang (76.92%). Tehnik Sipil 6 orang telah bekerja 5 orang ( 83,33%) dan Arsitektur 5 orang, telah bekerja 4 orang ( 80%).

Data mutakhir pada hari Rabu tanggal 23 September 2026, Universitas Citra Bangsa telah berhasil mewisuda 545 sarjana, ahli madya dan profesi yang terdiri dari S1 Keperawatan 129 orang, S1 PGSD 104 orang, S1 Pendidikan Informatika 19 orang, S1 Pendidikan Bahasa Inggris 3 orang, S1 Bisnis Digital 18 orang, S1 Teknologi Informasi 28 orang, S1 Arsitektur 18 orang, S1 Tehnik Sipil 7 orang, S1 Kebidanan 32 orang, S1 Farmasi 166 orang dan Profesi Ners 21 orang.

Dengan demikian secara keseluruhan lulusan Universitas Citra Bangsa telah mencapai 4.838 orang dan telah bekerja 3.629 orang (75,01%). Hal ini memperlihatkan kecocokan atau matching antara lulusannya dengan lapangan kerja, sementara yang belum bekerja atau belum terdata sekitar 25%.

Abraham membangun pendidikan dari TK, Paud, SD hingga Perguruan Tinggi UCB secara efektif dan efisien, mendidik SDM berkualitas untuk siap memasuki lapangan kerja serta mengurangi pengangguran. Gambarannya adalah dari 4 orang yang lulus pendidikan, 3 orang telah bekerja dan 1 orang menunggu kesempatan bekerja. Upaya ini merupakan upaya nyata menghasilkan SDM berkualitas yang siap memasuki lapangan kerja, ditengah angka pengangguran yang masih tinggi.

 

Dukungan dari Keluarga

Abraham mendapat dukungan penuh dari keluarganya dalam menjalankan profesinya. Ia menikah dengan Anastasia Wirastari Fulbertus (Anny) tanggal 31 Mei 1987 di Denpasar, Bali. Ia sebenarnya sudah tertarik pada Anny sejak sama-sama sekolah di SMA Katolik Giovanni, Kupang, tetapi belum mengungkap perasaannya hatinya.

Ia baru mengungkap perasaan hatinya ketika mereka melanjutkan kuliah di Atmajaya Yogyakarta, dan kemudian mereka berpacaran.

Pernikahannya dengan Anny di Denpasar, ia biayai sendiri karena saat kuliah ia sudah mulai bekerja sesuai talenta yang dimilikinya yaitu merancang bangunan, rumah tinggal, toko, salon bahkan bank di Bali dan Lombok. Dalam perjalanan perkawinan Abraham dan Anny, meraka mengalami pengalaman yang unik dan kasih Tuhan yang begitu besar.

Sesudah menikah, Abraham ingin memaksimalkan kemampuan sang istri di bidang accounting dan bidang komputer di perusahaan, maka ia belum menginginkan istrinya segera memiliki anak.

Ternyata sang istri hamil dan keinginannya belum mempunyai anak berpengaruh secara psikologis, sehingga istrinya mengalami keguguran pada usia 3 bulan. Anny berturut-turut mengalami keguguran kandungan pada tahun pertama, ketiga dan kelima sesudah perkawinan mereka. Waktu menikah Abraham berusia 31 tahun dan Anny 30 tahun.

Mereka mengadakan konsultasi dengan dokter ahli kandungan yaitu Dr Lukas Budi Gunawan di Yogyakarta dan Dr Wempi Pangkahila di Denpasar, Bali. Dokter sudah memberi “vonis” bahwa setelah 3 kali mengalami keguguran dan faktor usia sang istri sudah diatas 30 tahun, maka mereka sulit mendapatkan keturunan.

Tetapi ternyata apa yang direncanakan dan diperhitungkan manusia berbeda dengan rencana Tuhan. Ketika pekerjaan Abraham sudah mantap dan sudah mendirikan CV Citra Design di Kupang, ia belum mempunyai anak padahal istrinya memasuki usia 35 tahun. Meskipun posisi mereka di masyarakat sudah tergolong berada dengan materi berkecukupan, namun pikiran mereka selalu merasa terbebani karena belum

mempunyai keturunan. Apalagi dalam masyarakat kita, pertanyaan pertama yang sering diajukan kaum keluarga dan kerabat adalah: “Sudah punya anak berapa?” Sebagai manusia biasa, Abraham tersadar bahwa selama ini ia mengabaikan kehadiran anak dan lebih mengutamakan mengejar cita-cita, pekerjaan dan karier. Ia lebih mengejar karier dan harta ketimbang keturunan, dan mau mengatur sendiri jalan hidupnya, bukan menuruti kehendak Tuhan.

Dalam kesadaran kelemahan dirinya, ia berdoa kepada Tuhan dan menyerahkan beban hidupnya kepada Tuhan. Ternyata Tuhan yang Mahapengasih menjawab doa Abraham dan istrinya.

Pada tahun 1992, sang istri mengalami kehamilan dan pada usia kandungan 3 bulan lagi-lagi hampir terjadi keguguran akibat terlalu lelah mempersiapkan acara malam Natal dan Perjamuan Kudus di Gereja Koenonia-Kuanino, Kupang.

Ia mengalami pendarahan lagi dan karena sudah larut malam tidak menelepon dokter atau meminta bantuan orang lain. Dalam keadaan tidak berdaya, Abraham berlutut dan berdoa kepada Tuhan agar istrinya tidak mengalami keguguran lagi. Pagi harinya, ia membawa istrinya ke dokter, dan dokter mengatakan bahwa masa kritisnya 3 hari. Jika lewat masa kritis maka kandungan bisa dipertahankan, tetapi jika tidak maka mereka harus menunggu lagi.

Dengan perawatan intensif di Yogyakarta maka pada tanggal 18 Juni 1993 lahir anak pertama Abraham dan Anny, seorang bayi perempuan yang sehat yang diberi nama Yesenia Irene Liyanto.

Melalui perjuangan yang berat dari sang istri dan doa permohonan Abraham dalam ketidakberdayaan, Tuhan memberi yang terbaik yaitu seorang anak yang diidam-idamkan. Anak kedua lahir 2 tahun kemudian, dan diberi nama Hansel Adrial Liyanto. Kelahiran anak kedua Hansel ini memiliki keunikan yaitu berkaitan dengan angka serba 5, terlahir hari Jumat (hari ke-5), tanggal 5 bukan Mei (bulan ke-5) tahun 1995, pukul 05.05 pagi dengan panjang badan 55 cm.

 

Mimpi Seorang Abraham

Ada adagium atau filosofi dalam dunia motivasi dan kepemimpinan: “Pemimpin adalah Pemimpi” yang menggambarkan seorang pemimpin hebat harus memiliki visi, gagasan besar dan cita-cita yang tinggi untuk membawa perubahan, bukan sekedar menjalankan rutinitas apa adanya.

Pemimpin harus memiliki visi besar, ia “bermimpi” tentang masa depan yang lebih baik dan lebih maju bagi masyarakat, daerah, bangsa dan negaranya. Pemimpin harus berani (punya nyali), ia tidak berhenti pada angan-angan tetapi memiliki keberanian, strategi, usaha nyata untuk mengubah mimpi tersebut menjadi kenyataan.

Pemimpin menggerakkan sesama, pengikut, menyatukan banyak orang secara kolektif untuk bersama-sama meraih impian bersama menjadi kenyataan. Pemimpin memberi kail (pancing), bukan ikan.

Ia mengajarkan pentingnya memberi keahlian, ilmu, keterampilan, dan etos kemandirian kepada sesama agar bisa bertahan hidup untuk jangka panjang, ketimbang memberi bantuan instan yang bersifat sementara.

Dari kisah perjalanan hidup Abraham, kita dapat melihat bahwa ia memiliki keinginan kuat dan mimpi besar lewat karya-karya di bidang pendidikan dan kesehatan melalui Yayasan maupun Universitas Citra Bangsa (UCB) yang sudah dibangunnya. Ia akan meng-estavet-kan karya-karya tersebut pada kedua anaknya, Yesenia dan suaminya Kevin mengurus pendidikan dari TK sampai SMA dan Kampus UCB , serta Hansel dan istrinya Kezia mengurus Hotel dan Rumah Sakit, dengan visi dan misi yang sama.

Harapannya agar nanti lebih banyak anak-anak NTT bisa berprestasi dan agar 10 sampai 15 tahun ke depan mereka bisa membawa NTT keluar dari kemiskinan.

Moto pribadinya adalah MELAYANI DENGAN HATI DAN KASIH. KASIH akronim dari Kreatif, Ahlak, Sinergis, Integritas dan Harmoni. Siapa tokoh panutan yang dikaguminya? Abraham mengagumi Dr (HC) Ir. Ciputra (1931-2019) seorang insinyur, tokoh dan pengusaha besar Indonesia yang berjasa besar dalam pembangunan infrastruktur, pengembangan properti modern, pelopor pendidikan kewirausahaan serta berperan aktif dalam memajukan dunia olahraga, khususnya bulu tangkis Indonesia.

Bapak Ciputra (Pak Cip) adalah juga seorang filiantropis yaitu seorang dermawan yang menyumbangkan uang, waktu, tenaga dan keahliannya untuk menolong sesama dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat. Tujuan utamanya adalah menciptakan perubahan positif dan kesejahteraan jangka panjang bagi umat manusia tanpa mengharapkan keuntungan materi. Dengan kata lain, ia adalah Manusia Kaya Arti.

Pesan penting Abraham: NTT kaya dengan SDA tetapi miskin infrastruktur dan SDM. Oleh karena itu dibutuhkan tata kelola SDM yang baik dan benar dengan memberikan “Kail” daripada memberi “Ikan”. Jangan sampai salah paham apalagi gagal paham karena selalu bergantung pada proposal dan mengharapkan bantuan pihak lain. ia yakin, masyarakat NTT bisa keluar dari kemiskinan dengan usaha dan kerja keras karena ia sendiri sudah menjalaninya.

Menurut Abraham, bila salah kelola SDM bisa jadi nanti bukan Indonesia Emas tahun 2045, tetapi “Indonesia Cemas” yang akan terjadi. SDM harus dipersiapkan dengan baik melalui pendidikan, pelatihan, pembentukan karakter, etos kemandirian, dan penguatan ekonomi agar tercipta lapangan kerja serta stabilitas nasional yang tetap terjaga dengan baik.

Abraham sudah menjalani kehidupan dengan memberi arti bagi sesama. Karya-karyanya sebagai arsitek sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat berupa Gereja GMIT Kuanino, Kupang, Kantor dan Rujab Gubernur, Kantor Bank NTT dan bangunan-bangunan lainnya di NTT. Ia mendirikan Sekolah mulai TK sampai Universitas Citra Bangsa, yang mendidik tunas-tunas bangsa agar tumbuh berkembang menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat, gereja dan bangsa.

Melalui STIKES CHMK ia mendidik dan melatih manusia-manusa terampil yang siap memasuki lapangan kerja dan mengurangi pengangguran. Ribuan tenaga medis, perawat dan bidan telah dihasilkannya dan mereka telah mengabdi dalam porfesinya di dalam maupun luar negeri. Ia telah menghasilkan banyak putra-putri NTT yang berdedikasi dalam pekerjaannya, menjadi pekerja profesional dalam bidang kesehatan, apoteker, arsitek, guru, dan bisnis digital.

Rata-rata 75% lulusannya telah bekerja dalam berbagai bidang profesi. Ia telah meng-estavet-kan peran dan usaha kepada kedua anaknya, yaitu Yesenia dan suaminya Kevin dalam meneruskan kepemimpinan di Kampus dan Yayasan yang membawahi pendidikan TK sampai Univesitas Citra Bangsa, dan Hansel serta istrinya Kezia meneruskan bisnis Hotel Properti dan pembangunan Rumah Sakit.

Ia menyadari pentingnya regenerasi untuk menjaga keberlanjutan apa yang sudah dicapai, meneruskan estavet kepemimpinan, serta memastikan tidak ada ketergantungan pada dirinya sebagai tokoh utama.

Warisan utamanya adalah nilai-nilai luhur dalam kehidupan, integritas, etos kemandirian, budi pekerti yang luhur, disiplin dan kerja keras bagi generasi penerus dalam perjuangan hidup yang menghadapi tantangan semakin kompleks.

Pada usianya yang ke-70 tahun, ia merasa saat yang tepat untuk mulai mentransfer kepemimpinan dari dirnya sebagai generasi tua baby boomers kepada anak-anaknya generasi milenial yang berbeda situasi kondisi dan pengalamannya. Meski hal itu tidak mudah, tetapi ia percaya hal itu bisa terlaksana dengan baik dengan dukungan semua pihak.

Sebagai Manusia Kaya Arti, ia telah memberi kontribusi besar dengan talenta dan kerja kerasnya membangun berbagai infrastruktur sosial berupa gedung kantor pemerintahan, bank, sekolah dari TK sampai Universitas Citra Bangsa, pendidikan bagi SDM NTT bidang kesehatan, apoteker, guru, informatika, bahasa Inggris, dan arsitek yang membuka jalan untuk memasuki lapangan kerja. Secara tidak langsung ia menciptakan manusia-manusia kaya arti baru melalui hasil didik dan alumni pendidikannya.

Abraham bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, bahwa perjalanan hidupnya, kehidupan berkeluarga dan mendapat keturunan, serta semua karya-karya serta prestasi yang telah dicapainya, bukan semata-mata karena usahanya sendiri, tetapi karena anugerah atau pemberian dari Allah. Sebab, dalam Efesus 2:8 dikatakan, “karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah” [***]

DAFTAR PUSTAKA

  1. Adam, Jack, dkk, 1997, Baktiku Untuk Nusa Tenggara Timur, Penerbit Yayasan Citra Insan Pembaru, Kupang.
  2. Badan Pendidikan, Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP4D) Nusa Tenggara Timur 2009, Jurnal Litbangda NTT Flobamora, Rangkaian Pemikiran Kebijakan Pembangunan Daerah, Kupang.
  3. Forum Pengkajian Seskoad, 2007, Tantangan Pembangunan, Dinamika Pemikiran seskoad, Edisi ke-14, Bandung.
  4. Frans Magnis Suseno, 1989, Etika Dasar, Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral, Penerbit Pustaka Filsafat, jakarta.
  5. Jamal Ma’mur Asmani, 2009, The Law of Possitive Thinking, Hukum Berpikir Positif, Penerbit Garailmu, Yogyakarta.
  6. Kompas, 22/8/ 2026, Pemulihan Korban Gempa Flores, 21/8/2026, Flores Dalam Cengkeraman Kerapuhan Geologi, Harian Kompas , Jakarta.
  7. Liyanto, Abraham, Paul, 2009, impian Perubahan dan Perjuangan Kemanusiaan, Caritas Publishing House of Indonesia.
  8. Maxwell, John C, 2022, Developing The Leader Within You 2.0, PT. Menuju Insan Cemerlang, Publishing, Surabaya.
  9. Musakabe, Herman, 2004, Roh Kepemimpinan Sejati, Sebiah Pencarian Jatidiri Pemimpin, Citra Insan Pembaru, Jakarta.
  10. Musakabe, Herman, 2008, Mengembangkan Talenta Untuk Sesama, Citra Insan Pembaru, Jakarta.
  11. Musakabe, Herman, 2010, Menjadi Manusia Kaya Arti, Citra Insan Pembaru, Jakarta.
  12. Musakabe, Herman, dkk, 2026, Jejak Langkah 67 Tahun NTT, Penerbit PT Kanisius, Jakarta.
  13. Nanus, Burt, 2001, Kepemimpinan Visioner, PT Prenhalindo, Jakarta.
  14. Norman Vincent Peale, 1996, Berpikir Positif, Penerbit Binarupa Aksara, Jakarta.
  15. Octavianus, P, Pdt, 1991, Manajemen dan Kepemimpinan Menurut Wahyu Allah, Penerbit YPPI & Gandum Mas, Malang.
  16. Seda, Frans, 1996, Kekuasaan dan Moral, Politik Ekonomi Masyarakat Indonesia Baru, Gramedia Wdiasarana Indonesia, Jakarta.
  17. Tetiro, Agustinus, 2025, Melipat Jarak Kupang-Jakarta, Percepatan Pembangunan NTT-Sentris Untuk Flobamora, Penerbit Ikan Paus, Jakarta.