Pengampunan Tanpa Batas

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, kecenderungan kita kalau.mau mengampuni sesama, selalu pakai syarat. Saya mau mengampuni kamu asalkan kamu…. Sedang Tuhan mengajarkan kita para murid-Nya agar mengampuni tanpa syarat dan tanpa batas.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 18: 21 – 19: 1, yakni perumpamaan tentang pengampunan dan perceraian. Para saudaraku, Petrus mengira sudah murah HATI dengan menawarkan pengampunan tujuh kali. Namun Yesus menegaskan: “Bukan sampai tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh.” Artinya: pengampunan tanpa batas. Perumpamaan hamba berutang sepuluh ribu talenta menggambarkan dosa kita yang mustahil dibayar. Raja yang penuh belas kasihan menghapus semuanya. Tetapi hamba itu gagal meneladani kemurahan HATI rajanya, justru menuntut utang kecil dari sesamanya. Inilah cermin hidup kita. Kita sering lupa betapa besar pengampunan yang sudah kita terima, lalu enggan mengampuni orang lain. Kita memasang syarat: “Asalkan dia minta maaf dulu.” “Asalkan dia berubah.” Padahal Tuhan tidak pernah memberi syarat seperti itu kepada kita. Pengampunan tanpa batas bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan, melainkan melepaskan hak untuk membalas dendam. Kita memilih memberi kesempatan baru, sebagaimana Tuhan memberi kesempatan kepada kita. Di dunia modern yang serba bersyarat kontrak kerja, pinjaman bank, bahkan pertemanan, Yesus mengajarkan pengampunan yang radikal: tanpa syarat, tanpa batas. Itulah wajah Bapa yang penuh KASIH.

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, Pengampunan sejati adalah jalan menuju kebebasan. Saat kita mengampuni, kita bukan hanya membebaskan orang lain, tetapi juga membebaskan diri sendiri dari penjara luka dan dendam. Salib Kristus sudah berbicara lebih keras daripada semua kesalahan yang pernah melukai kita. Maka, jika Tuhan sudah mengampuni kita tanpa syarat, bukankah kita pun harus mengampuni sesama dengan cara yang sama Pengampunan tanpa batas adalah kehormatan untuk menjadi serupa dengan Bapa di surga.

Pertanyaan Refleksi

1. Apakah ada seseorang yang hingga kini sulit saya ampuni karena luka yang begitu dalam? Apa yang menghalangi saya untuk melepaskan pengampunan itu?
2. Apakah saya sering memberi syarat sebelum mengampuni, seperti menunggu orang lain minta maaf atau berubah terlebih dahulu? Bagaimana sikap Yesus menantang cara pandang saya?
3. Bagaimana saya dapat meneladani Kristus yang mengampuni tanpa syarat, dan menghidupinya dalam relasi sehari-hari—di keluarga, pekerjaan, maupun lingkungan sosial?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Yesus, Engkau telah mengampuni aku tanpa syarat dan tanpa batas. Ajarlah aku untuk melepaskan luka dan dendam, agar hatiku bebas seperti hati-Mu. Berilah aku keberanian untuk mengampuni sesama, bukan karena mereka layak, tetapi karena KASIH dan kerahiman-Mu jauh lebih besar daripada segala kesalahan. Amin.