Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta bermasyarakat, sering kali terjadi tidak setia pada sumpah atau janji atau ikrar. Atau sering kali terjadi orang melanggar atau mengingkari sumpah atau janji atau ikrar, tidak hanya kepada sesama atau masyarakat, tetapi terlebih kepada Tuhan. Pada hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati Santo Maksimilianus Maria Kolbe, Imam dan Martir.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 19: 3 – 12, yakni perceraian. Para saudaraku, orang Farisi datang dengan jebakan tentang perceraian. Yesus tidak terjebak. Ia mengajak mereka kembali ke awal mula: taman Eden, saat Allah menyatukan laki-laki dan perempuan menjadi satu daging. Pernikahan bukan kontrak sosial yang bisa dibatalkan, melainkan perjanjian kudus di hadapan Allah. Apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. Namun dunia modern sering mempermainkan janji. Di politik, janji kampanye menguap begitu kursi diduduki. Di keluarga, sumpah pernikahan “sampai maut memisahkan” berakhir di meja pengadilan. Bahkan dalam hidup membiara, ada yang meninggalkan imamat atau kaul atau panggilan. Semua itu lahir dari HATI yang mengeras, lupa bahwa sumpah adalah ikatan di hadapan Allah, bukan sekadar kesepakatan manusia. Kontrak bisa dibatalkan bila syarat gagal dipenuhi. Tetapi sumpah tetap mengikat, karena diucapkan di hadapan Allah yang setia. Kesetiaan sejati justru diuji di tengah badai: saat ekonomi goyah, saat pasangan berubah, saat tubuh rapuh. Cinta yang hanya bertahan di kala senang bukanlah cinta, melainkan hasrat. Dan hasrat akan layu, tetapi kesetiaan bertahan. Yesus menutup dengan panggilan radikal: ada yang memilih hidup selibat demi Kerajaan Surga. Pesannya jelas: baik menikah maupun membujang, yang dituntut adalah hati yang utuh. Kesetiaan lahir dari kasih Kristus yang menawan jiwa. Salib menjadi bukti bahwa Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya, sekalipun kita sering mengkhianati-Nya.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku dunia akan terus berbisik bahwa janji bisa direvisi, sumpah bisa dibatalkan, komitmen hanya relevan bila menguntungkan. Tetapi Kristus memanggil kita pada standar yang berbeda: KESETIAAN yang mencerminkan hati-Nya sendiri. Maka jangan biarkan rasa lelah merobek sumpahmu. Ingatlah: janji yang engkau ucapkan di hadapan Allah dicatat dalam kitab kehidupan. Jika engkau jatuh, pintu pengampunan tetap terbuka. Allah setia sekalipun kita tidak setia. Dari kesetiaan-Nya itulah kita menarik kekuatan untuk bertahan. Setialah. Bukan karena mudah, bukan karena pasangan sempurna, tetapi karena Allah yang menyaksikan sumpahmu layak menerima kesetiaan itu. Kesetiaan kita adalah cermin dari kesetiaan-Nya yang kekal.“ Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Mat 19:6)
Pertanyaan Refleksi
1. Dalam hal apa saya pernah tergoda untuk mengingkari janji atau sumpah, dan bagaimana kasih Kristus memanggil saya untuk tetap setia?
2. Bagaimana saya menjaga komitmen dalam keluarga, pekerjaan, atau pelayanan ketika situasi menjadi sulit dan tidak nyaman?
3. Apakah saya sungguh menyadari bahwa setiap sumpah atau janji yang saya ucapkan di hadapan Allah adalah ikatan suci yang menuntut kesetiaan seumur hidup?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan yang setia, Engkau tidak pernah mengingkari janji-Mu. Ajarlah kami untuk setia pada sumpah dan komitmen, meski dunia menganggapnya ringan. Kuatkan HATI kami di saat lelah, TEGUHKAN iman kami di tengah badai, dan PULIHKAN kami bila jatuh. Biarlah kesetiaan kami menjadi cermin dari kasih-Mu yang tak tergoyahkan. Amin.




