Yang Kita tanam, Itulah Yang Dipetik

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Saudara, hari ini kita seringkali sibuk memikirkan ‘apa yang akan kita petik’ dari orang lain. Tetapi Firman Tuhan hari ini membalik pertanyaan itu: ‘Apa yang sudah ENGKAU tanam?’ Jika saat ini hidup terasa pahit, mari periksa benih apa yang sedang kita siram hari ini, apakah itu kebencian ataukah pengampunan?

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 6: 27 – 38, yakni kasihilah musuhmu. Para saudaraku, hidup ini ibarat ladang: apa yang kita tanam, itulah yang tumbuh. Tidak mungkin benih duri menghasilkan anggur. Demikian pula, kebencian tidak pernah melahirkan damai. Yesus mengingatkan kita dengan tegas: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu. ”Dunia modern justru sering menabur benih yang pahit. Media sosial penuh hujatan, jalan raya dipenuhi amarah, kantor dan rumah tak jarang menjadi ladang ego. Kita menuntut dihormati, tetapi enggan menghormati. Kita ingin dimengerti, tetapi jarang mau mendengarkan. Tanpa sadar, kita menanam duri setiap hari—dan menuai kepahitan. Yesus menawarkan jalan lain: tanamlah kasih, pengampunan, dan kemurahan. Hukum rohani ini mutlak: “Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” Jika kita menabur kebaikan, kita akan menuai kelimpahan. Jika kita menabur pengampunan, kita akan menuai pemulihan. Mengasihi musuh memang melawan naluri. Tetapi iman menuntun kita untuk berdoa, bukan agar orang lain berubah terlebih dahulu, melainkan agar hati kita diubah. Saat kita berdoa bagi mereka yang menyakiti kita, beban kebencian terangkat, dan kasih Allah bekerja. Dunia boleh keras, tetapi ladang hati kita tetap bisa ditanami benih yang baik.

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, hidup ini bukan soal apa yang orang lain lakukan kepadamu, melainkan benih apa yang engkau pilih untuk ditanam hari ini. Tanamlah KASIH, meski tidak dibalas. Tanamlah PENGAMPUNAN, meski terasa berat. Tanamlah KEMURAHAN, meski tampak merugikan. Jangan tunggu orang lain berubah dulu. Ladang tidak menunggu. Ia menerima setiap benih yang kita tabur, dan akan mengembalikannya tepat pada waktunya. Percayalah, Tuhan melihat setiap benih yang kita tanam, bahkan yang tersembunyi. Panen-Nya pasti datang, panen damai, pemulihan, dan kelimpahan. Yang kita tanam, itulah yang akan kita petik.
Hari ini, benih apa yang akan engkau tanam?

Pertanyaan Refleksi

1. Benih apa yang saya tanam setiap hari melalui kata-kata, sikap, dan tindakan saya, apakah itu kasih, pengampunan, atau justru kebencian dan amarah?
2. Bagaimana media sosial dan interaksi modern memengaruhi cara saya menabur benih dalam relasi dengan sesama?Apakah saya ikut menambah duri atau menebar damai?
3. Apa langkah konkret yang bisa saya lakukan hari ini untuk menanam KASIH, KEMURAHAN, dan PENGAMPUNAN, meski terasa berat atau tidak dibalas?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Yang Mahatinggi, ajarilah kami menabur KASIH di tengah dunia yang penuh kebencian, menabur pengampunan di tengah HATI yang terluka, dan menabur kemurahan di tengah sikap yang serba egois. Lepaskan kami dari benih amarah dan kebencian, ubahkan HATI kami agar menjadi ladang damai, sehingga hidup kami memancarkan kasih-Mu dan menuai BERKAT yang Engkau janjikan. Amin.