Apakah Engkau Mengasihi Aku?

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK 

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Pada hari ini, Yesus bertanya kepada Petrus 3 kali: apakah engkau mengasihi Aku? Pertanyaan yang sama juga ditujukan kepada kita. Apa jawaban kita? Apakah seperti jawaban Petrus? Benar Tuhan, Engkau tahu aku mengasihi Engkau. Atau kita punya Jawaban yang lain? Ingatlah, sekalipun kita selalu menyangkal Yesus, seperti Petrus dengan kita tidak setia pada-Nya, Dia selalu mengasihi kita, “apakah engkau mengasihi Aku?”.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Yohanes 21: 15;- 19, yakni gembalakanlah domba-domba-Ku. Para saudaraku, di tepi danau Tiberias, Yesus bertanya tiga kali kepada Petrus: “ Apakah engkau mengasihi Aku?”
Pertama dan kedua, Yesus memakai kata _agape_ kasih yang sempurna, tanpa batas. Petrus hanya mampu menjawab dengan _phileo_ kasih persahabatan yang rapuh. Ketiga kalinya, Yesus menurunkan pertanyaan-Nya ke tingkat _phileo_ seolah berkata: “Apakah engkau sungguh bersahabat dengan-Ku?” Petrus sedih. Ia tahu Yesus mengenal segala kelemahannya. Ia tidak memiliki _agape_ yang murni. Namun justru di situlah KASIH Yesus bekerja: Ia tidak menuntut kesempurnaan, melainkan HATI yang mau diarahkan kepada-Nya. _Phileo_ yang rapuh itu, bila diserahkan kepada Sang Guru, perlahan bertumbuh menjadi _agape_ yang rela berkorban. Yesus lalu memberi perintah: “gembalakanlah domba-domba-Ku.” Pertanyaan yang sama juga ditujukan kepada kita. _apakah engkau mengasihi Aku?_ Apa jawaban kita? Apakah punya jawaban yang lain? Atau sama seperti jawaban Petrus? Apapun jawaban kita, namun KASIH kita kepada Yesus tidak hanya berhenti pada jawaban di bibir saja, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata PELAYANAN. Namun sebelum kita melayani dan menggembalakan domba-domba-Nya, kita terlebih dahulu harus belajar melayani dan menggembalakan diri sendiri, keluarga komunitas serta di tempat kerja, dengan menimba kekuatan dari Sang Gembala Agung. Oleh karena itu, hari ini, sekali lagi, pertanyaan yang sama bukan hanya ditujukan kepada Petrus, tetapi juga kepada kita. Ingatlah, kita tidak lebih baik darinya, sebab seringkali kita gagal, kita menyangkal, dan keras kepala kepada-Nya. Namun Yesus tetap bertanya dengan sabar: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Jawaban kita, apa pun bentuknya, selalu diikuti perutusan: melayani, menggembalakan, dan mengikuti Dia. KASIH kepada Yesus mengubah pelayanan menjadi ibadah, bukan beban.

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, Yesus tidak mencari orang yang sempurna untuk mengasihi-Nya, tetapi Ia mencari HATI yang mau dibentuk oleh kasih-Nya yang sempurna. Seperti Petrus, kita mungkin hanya mampu memberi _phileo_ yang terbatas. Tetapi bila kita berani berkata “Ya Tuhan, Engkau tahu aku mengasihi-Mu,” maka kasih-Nya akan menyempurnakan ketidaksempurnaan kita. Dan dari jawaban sederhana itu, lahirlah panggilan yang mengubah hidup:
“Ikutlah Aku”
Siapkah kita berjalan bersama Sang Gembala Agung, menggembalakan diri sendiri, lalu menggembalakan domba-domba-Nya dengan KASIH yang bertumbuh menjadi _agape?_

Pertanyaan Refleksi

1. Apakah kasihku kepada Yesus masih sebatas _phileo_ yang rapuh, ataukah sudah bertumbuh menuju _agape_ yang rela berkorban?
2. Apakah aku sudah menggembalakan diriku sendiri dengan menimba dari Sang Gembala Agung sebelum menggembalakan domba-domba-Nya?
3. Apakah jawaban “ya” kepada Yesus sungguh nyata dalam pelayanan bagi sesama, terutama yang lemah dan sulit?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Yesus, Engkau tahu HATI kami rapuh dan KASIH kami sering hanya sebatas _phileo_. Namun kami mau menyerahkan KASIH yang terbatas ini kepada-Mu, agar Engkau menyempurnakannya dengan _agape_-Mu yang tanpa batas. Ajarlah kami terlebih dahulu menggembalakan diri sendiri dengan menimba dari-Mu, Sang Gembala Agung, lalu dengan setia menggembalakan domba-domba-Mu. Jadikan jawaban “ya” kami bukan sekadar kata, tetapi nyata dalam pelayanan dan pengorbanan. Amin.