EXPONTT.COM, KUPANG – Tokoh asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs. Franciscus Xaverius Seda atau yang dikenal dengan nama Frans Seda, akan dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2026.
Kabar penganugerahan tersebut diterima Pemerintah Provinsi NTT melalui surat Kementerian Sosial Republik Indonesia Nomor 1932/5.5/PB.06.00/11/2026 tentang Pemberitahuan Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Dalam surat tersebut dijelaskan, berdasarkan surat Sekretaris Militer Presiden, Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia Nomor 17/KSN/SM/GT.03.00/11/2026 tertanggal 5 November 2026, Presiden Prabowo Subianto akan menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada almarhum Frans Seda.
Penganugerahan ini menjadi kebanggaan bagi masyarakat NTT sekaligus menambah daftar putra terbaik daerah yang mendapat pengakuan negara atas jasa dan pengabdiannya bagi bangsa Indonesia.
Sebelumnya, NTT telah memiliki tiga tokoh yang dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional, yakni I.H. Doko, W.Z. Johannes, dan Herman Johannes.
Frans Seda lahir di Maumere, Pulau Flores, pada 4 Oktober 1926. Ia menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Ekonomi Katholieke Universiteit Tilburg, Belanda, dan menyelesaikan studinya pada 1956.
Dalam perjalanan kariernya, Frans Seda dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam pemerintahan Indonesia. Pengabdiannya di tingkat nasional dimulai ketika dipercaya menjabat Menteri Perkebunan pada 1964–1966.
Pada 1966, ia kemudian dipercaya menjadi Menteri Pertanian dan Tenaga Kerja, sebelum menjabat Menteri Keuangan pada 1966–1968. Selanjutnya, pada 1968–1973, Frans Seda mengemban tugas sebagai Menteri Transportasi, Komunikasi, dan Pariwisata.
Pengabdiannya juga menjangkau dunia internasional. Pada 1973–1976, ia dipercaya menjadi Duta Besar untuk Masyarakat Ekonomi Eropa, Kerajaan Belgia, dan Luksemburg.
Ia juga pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung pada 1976–1978, anggota Penasihat Presiden untuk Pembangunan Indonesia Bagian Timur pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, serta penasihat Presiden B.J. Habibie.
Pada 1999–2004, Frans Seda kembali dipercaya menjadi penasihat Megawati Soekarnoputri, baik ketika menjabat Wakil Presiden maupun Presiden Republik Indonesia.
Di bidang politik, Frans Seda aktif dalam Partai Katolik Indonesia sejak 1956 dan kemudian dipercaya menjadi ketua partai tersebut. Ia juga pernah menjadi anggota DPR pada 1960–1964, anggota Dewan Pimpinan Partai Demokrasi Indonesia pada 1971, serta terlibat dalam kepengurusan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pada 1997.
Selain pemerintahan dan politik, Frans Seda memberikan kontribusi besar dalam dunia usaha dan pembangunan ekonomi. Ia pernah memimpin sejumlah perusahaan dan lembaga bisnis, antara lain sebagai Presiden Direktur PT Karwel Group, Presiden Dewan Komisaris Kompas Group of Business and Industries, serta anggota Dewan Komisaris PT Gramedia.
Ia juga pernah memimpin Asosiasi Pertekstilan Indonesia dan terlibat dalam berbagai organisasi yang mendorong pengembangan hubungan ekonomi dan perdagangan Indonesia dengan negara lain, termasuk Belanda dan Australia.
Dalam bidang pendidikan dan sosial, Frans Seda dikenal sebagai pendiri sekaligus Ketua Umum Yayasan Atma Jaya Jakarta selama 36 tahun. Sejak 1996, ia menjabat sebagai Ketua Kehormatan Yayasan Atma Jaya dan kemudian dipercaya menjadi Ketua Dewan Pembina pada 2007.
Ia juga aktif dalam berbagai organisasi pendidikan, sosial, dan pembangunan, termasuk APTIK serta sejumlah lembaga kerja sama Indonesia dengan negara sahabat.
Atas pengabdian dan kontribusinya, Frans Seda menerima berbagai penghargaan dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya Bintang Mahaputera Republik Indonesia pada 10 Maret 1973, Grand Cross of St. Sylvester dari Paus Yohanes Paulus II pada 1984, serta Grand Cross de L’Ordre de Leopold II dari Belgia pada 4 Juni 1970.
Pada Agustus 1999, Pemerintah Australia juga menganugerahinya Honorary Member of the Order of Australia atas jasanya dalam mengembangkan hubungan perdagangan antara Australia dan Indonesia. Selain itu, ia menerima sejumlah penghargaan kehormatan dari Belanda, Kamboja, Filipina, dan Amerika Serikat.
Jejak panjang Frans Seda dalam pemerintahan, politik, ekonomi, pendidikan, dan hubungan internasional menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional ini menjadi pengakuan negara atas pengabdian dan dedikasi Frans Seda, putra asal Maumere, NTT, yang telah memberikan kontribusi besar bagi pembangunan dan kemajuan Indonesia.(*)




