EXPONTT.COM, KUPANG – Jemaat GMIT Paulus Kupang kembali menggelar parade budaya untuk merayakan Bulan Bahasa dan Budaya.
Kegiatan tahun ketiga ini diikuti jemaat Rayon D Klasis Kota Kupang dan menjadi ajang mempererat persaudaraan antar suku.
Sekretaris Badan Hari Raya Gerejawi GMIT Paulus Kupang, Maya Neparasi, mengatakan parade ini sudah masuk tahun ketiga. Tahun pertama hanya lingkup internal jemaat, tahun kedua dan ketiga diperluas hingga 9 gereja dari 10 gereja Rayon D.
“Ini adalah salah satu program pelayanan dari Badan Hari Raya Gerejawi Jemaat GMIT Paulus Kupang, yang kami lakukan ini sudah tahun ketiga kami gelar parade ini, dalam rangka merayakan bulan budaya dan bahasa,” ujar Maya, Sabtu 30 Mei 2026.
Menurutnya, di tahun pertama 2024 itu dibuat dalam lingkup jemaat Paulus saja, di tahun 2025 melibatkan 9 gereja di lingkuo Rayon D Klasis Kota Kupang.
“Tahun kemarin kami buat agak lebih luas dengan mengundang jemaat Rayon D hampir 9 gereja dari 10 gereja dan tahun ini hanya 8 gereja karena 2 gereja lainnya juga ada kegiatan yang sama di Rayon D, Klasis Kota Kupang,” jelas Maya.
Maya mengatakan, tujuan utama kegiatan ini untuk mempererat persaudaraan dan mensyukuri kebudayaan yang diciptakan Tuhan.
“Tujuan dari kegiatan ini, untuk lebih mempererat persaudaraan antara jemaat. Salah satunya juga mensyukuri kebudayaan yang telah diciptakan Tuhan,” tambahnya.
Selain itu kata dia, dari rangkaian kegiatan ini dimulai dari pawai dan atraksi budaya dari gereja peserta, tari, pujian, dan pertunjukan budaya lain.
“Jadi budaya dan gereja sesuatu hal yang tidak terpisahkan, saling mendukung satu dengan yang lain. Kegiatannya itu berupa pawai, penampilan aktraksi budaya dari gereja-gereja yang merupakan peserta pawai. Jadi ada yang menari, menampilkan pujian, dan kegiatan ini digelar sehari ini saja,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Majelis Jemaat GMIT Paulus Kupang Pdt Norma Manu Folla menambahkan, GMIT terdiri dari berbagai suku dengan karunia berbeda.
“Dalam GMIT itu kita terdiri dari berbagai suku. Dari suku-suku ini masing-masing memiliki karunia Tuhan yang berbeda,” ujar Norma.
Ia menambahkan, parade ini jadi ruang melihat dan mensyukuri kekayaan budaya tiap suku.
“Dari kegiatan ini selain membangun kebersamaan, kita juga sedang melihat kekayaan yang ada pada setiap suku dan mensyukurinya,” tambahnya.
Sinode GMIT: Jemaat Paulus Jadi Role Model
Sementara itu, Sekretaris Sinode GMIT Pdt Lay Abdi Karya Wenyi, mengapresiasi inisiatif Jemaat Paulus.
“Majelis Sinode GMIT memberi apresiasi dan profisiat kepada majelis Jemaat Paulus bersama dengan jemaat D di Klasis Kota Kupang, yang menyelenggarakan parade ini di tahun ketiga,” kata Abdi.
Ia menyebut parade ini bagian puncak Bulan Budaya yang mengedukasi tentang keindahan perbedaan. Kegiatan ini menurutnya, adalah bagian dari puncak perayaan Bulan Budaya, yang menolong kita memberi makna terhadap keragaman yang terjadi.
“Bahwa ini adalah salah satu cara gereja untuk mengedukasi tentang perbedaan. Perbedaan itu sesuatu yang indah,” tukasnya.
Ia berharap kegiatan ini tidak hanya jadi tontonan, tapi tuntutan bagi gereja lain untuk berinovasi. Jemaat Paulus disebut bisa jadi role model perayaan Bulan Bahasa dan Budaya.
“Parade ini menurut kami lebih kepada merayakan perbedaan budaya, yang diparadekan menjadi keindahan bersama. Kami berharap, kegiatan ini tidak sekedar hanya menjadi tonton. Tapi, dia menjadi tuntutan bagi semua orang,” tukasnya.
“Apa yang dilakukan Jemaat Paulus menjadi roll model bagi jemaat-jemaat yang lain. Tidak perlu sama, namun bisa dengan cara berbeda yang tentunya berinovasi dan kreatif,” lanjut Abdi. (**)





